Semua Menuju Satu

Mengapa di setiap penghujung hari raya keagamaan, setiap manusia selalu rindu mudik ke kampung halaman gunaberkumpul dan bercengkrama bersama keluarga? Alasannya adalah karena adanya kerinduan kita atas cinta dan kedamaian masa lalu di kampung halaman.

Seorang anak ketika mendapatkan masalah yang besar dan pelik dalam hidupnya, kepada siapakah mereka akhirnya kembali mencurahkan perasaannya? Siapa lagi kalau bukan kepada ibunya. Ibu adalah wakil yang sengaja dikirimkan Tuhan ke dunia guna mengarahkan manusia (anak) ke jalan yang benar. Seburuk-buruknya seorang ibu, dia akan tetap melakukan yang terbaik buat masa depan anak-anaknya.

Mengapa seorang anak selalu mencari ibunya ketika mendapatkan masalah yang besar dan pelik? Salah satu jawabannya adalah karena ibu adalah sosok yang selalu ada di samping anak. Bayangkan, ketika seorang ibu sedang mengandung, dia akan memberikan suasana surga untuk anak yang dikandungnya. Dia tidak pernah mengeluh sama sekali dengan beban berat yang ada di perutnya. Sebaliknya, ibu selalu tegar dan tersenyum apapun keadaanya sebagai bukti bahwa dia selalu ingin membahagiakan si jabang bayi.

Sang ibu selalu mengelus perutya dengan limpahan cinta dan kasih sayang agar si jabang bayi merasa damai di dalam perutnya. Terkadang ibu memutar alunan musik slow di dekat perutnya  guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada si jabang bayi di dalam perut. Tak lupa, setiap hari ibu selalu memberikan asupan makanan yang bergizi dalam bentuk susu dan buah-buahan yang dia konsumsi agar kelak si jabang bayi mampu hidup sehat dan normal ketika terlahir di dunia.

Pada dasarnya, seorang ibu selalu ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Karena itu, sang ibu lalu mendidik anak-anaknya dengan limpahan cinta dan kasih sayang. Dia selalu berbicara dan bertindak lemah lembut kepada anaknya, namun terkadang dia juga menjadi tegas, tetapi ketegasan itu hanyalah cara bagi dia untuk mengajarkan kedisiplinan kepada anak-anaknya agar kelak mereka mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi tegas bagi ibu tidak berarti ingin melukai anaknya. Dalam hal ini, ibu diibaratkan sebagai seorang dokter yang sengaja memberikan suntikan vaksinasi kepada pasiennya, bukan untuk maksud melukai, tapi ini dilakukan agar si pasien kelak memiliki kekebalan tubuh yang baik agar mampu terhindar dari penyakit.

Dalam perjalanannya, ketika si anak telah menjadi pribadi yang sukses kususnya dalam hal finansial, beberapa dari mereka masih tetap patuh terhadap orang tuanya, namun ada juga yang berubah menjadi pembangkang. Melihat itu, sang ibu tidak menjadi putus asa. Sebaliknya, dia tetap menjalankan kewajibannya dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak-anaknya. Sang ibu juga tetap tulus dan tegar mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

Ketika si anak menghardik ibunya, sang ibu tak pernah mengutuk anaknya dengan sumpah serapah. Sebaliknya, sang ibu selalu mendoakan anaknya agar kelak menjadi pribadi yang lebih baik. Sang ibu tak pernah memilih kasih (favoritism) dan membeda-bedakan mana anaknya yang patuh dan pembangkang. Dia menganggap bahwa apa yang sedang dijalani dan dilakukan oleh anak-anaknya adalah sebuah proses pendewasaan bagi mereka. Dengan kata lain, sang ibu selalu siap menampung dan mengayomi energi kesalehan dan ketidaksalehan dari masing-masing anaknya. Kelak, ketika si anak menemukan masalah yang pelik dalam hidupnya, pada akhirnya dia akan kembali kepada ibunya dan sang ibu tak pernah menolak untuk merangkul kembali anaknya. Sang ibu selalu memberikan cinta dan kasih sayang kepada anaknya karena dia tahu bahwa si anak membutuhkan itu.

Gambaran di atas merupakan sebuah potret bahwa manusia adalah makhluk yang selalu penuh dengan kerinduan akan cinta dan kedamaian . Gambaran di atas juga menunjukkan betapa pengasih, penyayang, dan adilnya seorang ibu kepada anak-anaknya.  Kalau kita bisa dibuat takjub oleh sikap bijaksana seorang ibu, lalu bagaimana dengan pencipta ibu itu sendiri, yaitu Tuhan. Saya yakin Dia mampu membuat kita jauh lebih takjub karena bukankah Dia memiliki sifat yang maha pengasih, maha penyayang, maha adil dan pelbagai sifat maha lainnya? Bukankah kata maha itu sendiri adalah tingkatan yang paling tertinggi di antara tingkatan-tingkatan lainnya.

*****

Suatu ketika, Tuhan pernah diprotes oleh para malaikat. Si malaikat protes karena Tuhan berniat menciptakan manusia,padahal malaikat tahu betul bahwa kelak manusia akan menjadi perusak di muka bumi ini. Bukannya marah dan murka karena membangkangnya para malaikat yang notabene adalah makhluk ciptaanNya, Tuhan lalu menjawab pertanyaan si malaikat dengan arif dan bijaksana. Tuhan berkata, “Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.”

Ketika Tuhan menciptakan manusia, tak lupa Dia menitipkan warisan roh kebaikan dalam bentuk hati nurani kepada ciptaanNya agar kelak warisan tersebut mampu digunakan oleh ciptaanNya dalam menemukan diriNya. Tuhan berkata bahwa Dia akan selalu ada di samping hambaNya dan lebih dekat dari denyut urat nadi. Sehingga tak mengherankan, sejahat apapun seorang manusia, Dia akan tetap rindu dengan kebaikan itu sendiri karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang selalu tunduk kepada kebaikan karena roh Tuhan hidup dan bersemayam dalam diri mereka.

Ketika hambaNya berbuat baik, maka Tuhan akan memberikan nikmat yang luar biasa berlimpah kepada mereka. Sebaliknya, ketika hambaNya berbuat jahat, maka Dia hanya akan memberikan ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah dilakukan oleh hambaNya. Mengapa demikian? Karena Dia telah berjanji bahwa kasih sayangNya jauh melebihi kemurkaanNya.

Suatu ketika, hambanya yang beragama A dan beragama B sedang bertempur dengan hebatnya. Masing-masing kelompok menjual nama Tuhan sambil berteriak dengan lantang agar semua orang tahu bahwa mereka adalah pembela Tuhan yang sejati. Mereka saling mengklaim bahwa agamanya lah yang paling benar dan berhak menjadi pembela Tuhan.

Akhirnya, mereka saling bunuh-membunuh, hardik-menghardik, kafir-mengkafirkan. Mereka lalu menjadi bangga dengan apa yang telah dilakukannya dan menganggapnya sebagai prestasi tertinggi dalam membela Tuhan sehingga mereka menganggap dirinya layak masuk surga. Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang telah dibajak dan dijadikan legitimasi oleh ciptaanNya untuk mencelakai orang lain. Padahal, dibalik semuanya itu tersimpan niat yang kotor dan busuk untuk meraih kekuasaan demi kepentingan diri dan kelompoknya. Tuhan lalu dibuang dan tidak dianggap lagi. Tuhan hanya ditampilkan dalam bentuk simbol agama yang artifisial, bukan sebagai inspirator dalam menyebarkan kebaikan.

Tuhan pun tidak murka dengan itu, sebaliknya Dia tetap berlaku adil kepada makhluknya dengan memberikan nikmat dalam bentuk cahaya, air, udara, dll tanpa henti-hentinya kepada hambanya. Dia memberikan segalanya kepada hambaNya tanpa harus terperangkap dalam sekat-sekat yang telah dibuat oleh manusia itu sendiri.

Sekali-kali dia senagaja mendatangkan bencana seperti gempa bumi atau tsunami kepada hambanya, namun ini bukan menjadi kutukan. Apa yang Dia berikan adalah sebuah ungkapan cinta dan kasih sayang agar kelak hambanya mampu menjadi manusia yang lebih baik, diibaratkan seorang dokter yang sengaja memberikan suntikan vaksinasi kepada pasiennya agar kelak si pasien dapat memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik agar mampu terhindar dari penyakit.

Setelah bencana yang sengaja didatangkan Tuhan itu terjadi, beberapa hambanya menjadi tobat, namun masih ada juga yang memilih tetap membangkang. Tuhan pun tak bersedih melihat hamba yang membangkang itu, sebaliknya Dia selalu memaafkan kesalahan hambaNya itu sembari tetap memberikan nikmat yang tak henti-hentinya. Kelak, ketika si hamba yang pembangkang itu menjadi putus asa atas dirinya yang selama ini telah bergumul dengan perbuatan dosa, hamba itu lalu rindu untuk kembali kepada Tuhan. Tuhan pun selalu membuka diri untuk menerima dan merangkul hambaNya yang pembangkang itu tanpa sama sekali memandang latar belakangnya. Dia juga tak menjadi murka sedikit pun kepada hambaNya itu karena Dia sejatinya adalah sang maha pemaaf.

Dalam realitas penciptaanya, Tuhan sengaja memberikan nama yang berbeda-beda terhadap diriNya yang direpresentasikan lewat ajaran agama yang dianut oleh hambaNya. Dia melakukan itu untuk menguji sejauh mana kemampuan hambaNya membangun peradaban berlandaskan pluralisme, apakah berjalan sukses atau sebaliknya.

Lalu, lagi-lagi telinga hambaNya menjadi berang dan panas karena masing-masing dari mereka hanya menganggap bahwa nama Tuhannya lah yang paling benar. Pada akhirnya, mereka saling mengutuk satu sama lain, padahal yang menjadi akar masalahnya adalah egoisme mereka sendiri. Tuhan pun lalu tersenyum lebar melihat gelagat hambanya yang sok-sok membela diriNya padahal Dia sendiri tahu kalau Dia tidak perlu dibela. Tuhan lalu berkata “gitu aja kok repot”.

Yogyakarta, 21 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s