Inikah Tren Haji ala Bugis

Alkisah seorang perempuan Bugis yang bermukim di sebuah desa di salah satu kabupaten di Sulawei Selatan, sebutlah namanya Besse. Suatu hari dia berkunjung ke sebuah acara dawa-dawa . Akhir-akhir ini, Besse risih bertandang di acara dawa-dawa. Penyebabnya, dia adalah salah satu dari sekian perempuan di desanya yang belum memiliki gelar haji (hajjah).

Namun, dia juga rikuh bila tidak ambil bagian di acara dawa-dawa itu. Khawatir hubungannya dengan kerabat/tetangga akan renggang. Besse, merasa dirinya rendah layaknya “pembantu” dalam acara dawa-dawa. Ia harus bermandikan keringat di dapur membantu sang pemilik hajatan. Mulai menumbuk, menggiling, sampai mengolah rempah-rempah, dan bahan masakan lainnya.

Di sisi lain, mereka yang telah memiliki gelar haji yang datang lengkap dengan bau parfum, make-up dan perhisan emasnya mendapatkan privilege (hak istimewa). Cukup duduk berbagi cerita kepada mereka yang tidak bergelar haji seperti Besse. Para haji itu enggan menyentuh rempah-rempah di acara dawa-dawa tersebut, enggan bermandikan keringat, apalagi aroma rempah-rempah dan asap dapur.

Seiring berjalannya waktu, Besse akhirnya mampu naik Haji dengan paket ONH Plus yang sedikit lebih mahal dan bergengsi dibandingkan paket regular. Menjelang keberangkatannya gemparlah informasi tersebar di kampung bahwa sebentar lagi Besse akan naik haji.

Singkat cerita, prosesi haji telah berakhir. Besse kembali ke tanah air lengkap dengan oleh-oleh yang dia beli khusus untuk keluarga, kerabat, dan tetangganya. Beberapa hari kemudian, Besse mendapatkan undangan hajatan pernikahan dari seorang tetangga. Berbalut rasa senang, Besse yang tidak lagi risih dan dianggap “pembantu” datangi dawa-dawa tersebut.

Gelar Haji di depan namanya membuatnya naik pamor, mendapatkan hak istimewa di dapur, serupa dengan haji-haji lainya, termasuk para “seniornya”. Besse disambut bak permaisuri, pemilik hajatan memberinya tempat duduk yang spesial. Sekali-kali Besse ingin membantu menumbuk rempah-rempah, tetapi para tetangga tidak mengizinkannya. Entah itu basa-basi atau memang niat tulus.

Pulang dari acara dawa-dawa, Besse berbelanja kebaya mewah. Sudah saatnya ia menunjukkan kelasnya sebagai seorang Haji. Tak lupa, perhiasan emas juga diborongnya. Setelah itu ia ke salon terkenal di kotanya, meminta layanan make up terbaik dan termahal, karena waktu terbatas, dan proses make up yang memakan waktu, serta tak ingin make up-nya luntur. Besse memilih menjamak shalat Magribya saat Isya nanti.

Di pesta, Besse “dijatah” kursi VIP oleh empunya hajat. Duduk di kursi terdepan sebagai sebuah bukti penghargaan dari sang pemilik hajatan. Malam itu Besse telah menjelma sebagai ratu jagat semalam. Semua mata tertuju padanya. Di sana-sini orang memanggilnya dengan Haji Besse atau Puang Haji. Haji Besse sumringah, sekali-kali menebarkan senyuman khasnya. Setiap tamu berlomba ingin berfoto dengannya. Penampilannya lalu menjadi trend-setter di kalangan ibu-ibu di kampungnya.

Saat hendak meninggalkan acara hajatan tersebut, seorang teman lama menghampirinya dan memanggil namanya Besse tanpa gelar haji. Besse hanya menoleh dengan wajah masamnya, tak senang dengan panggilan tersebut. Keesokan harinya ketika saat keduanya bersua di pasar, Besse agak menampakkan wajah jutek pada kawan lamanya itu.

Dalam sekejap, Besse menjadi terkenal di pasar, hampir setiap orang mengenalnya. Saban ke pasar, Besse datang lengkap dengan jilbabnya yang mewah dan colorful dengan perhiasan emasnya yang berjejer. Kini, Besse bukan Besse yang dulu. Besse saat ini telah menjelma sebagai seseorang yang dikagumi oleh kerabat/tetangganya dan dia pun menjadi bangga akan itu.                                               .

*****

Kisah Besse di atas adalah gambaran sebuah fenomena yang banyak terjadi di Masyarakat Bugis akhir-akhir ini. Makna haji yang dulunya dianggap sebagai jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta lalu bergeser menjadi alat untuk menunjukkan dan menaikkan image, ‘pojiale’ kata orang Bugis. Para perempuan yang telah menjadi haji tersebut juga merasa bahwa ada sesuatu yang hilang bila mereka tidak berpenampilan ala kaum sosialita.

Lalu, mengapa makna haji mengalami pergeseran dalam masyarakat Bugis? Salah satu penyebabnya adalah sinetron Televisi, tayangan “fardu ain” perempuan Bugis untuk ditonton. Mereka banyak melihat dan mengikuti gaya hidup sosialita para artis yang dalam sisi tertentu dianggap sebagai trend-setter bagi mereka. Sinetron di TV Indonesia yang hanya menonjolkan sisi penampilan dan hedonisme semata dan melupakan aspek edukasi, secara tidak sadar berasimilasi dalam alam bawah sadar kaum perempuan tersebut.

Tidak adanya daya kritis kaum perempuan di pedesaan terhadap apa yang ditampilkan oleh media, makin membentuk mereka menjadi plagiator murni. Mereka berubah menjadi masyarakat konsumtif sejati dari barang-barang yang up-to-date agar mampu menjadi pusat perhatian layaknya seorang selebritis. Fakta ini juga didukung oleh pandangan umum yang selama ini telah tertanam dalam masyarakat, dimana seorang perempuan harus berpenampilan baik agar menjadi objek perhatian.

Alasan lainnya adalah hilangnya kewibawaan kepemimpinan tradisional dan keagamaan dalam masyarakat Bugis. Para rohaniawan dan pemimpin adat sibuk dalam panggung politik kekuasaan, sehingga mereka tidak lagi peka untuk menjadi punggawa pelestari nilai-nilai agama dan kebudayaan.

Yang terpenting adalah para perempuan Bugis gagal menerjemahkan nilai Siri’ (harga diri/malu) yang sebenarnya memiliki orientasi positif. Bagi mereka, tidak menjadi haji dengan penampilan ala sosialita justru dianggap merendahkan harga diri.

Lalu apa lagi yang masih tersisa dari masyarakat Bugis?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s