Ada Apa dengan Bahasa Kita?

Bahasa adalah medium komunikasi bagi manusia. Sulit untuk menelusuri kapan sebuah bahasa pertama kali digunakan. Namun, pada dasarnya bahasa telah eksis dan digunakan sejak zaman dahulu. Suatu bahasa mampu berkembang karena sifatnya yang dinamis dan tidak hidup di dalam ruang hampa. Bahasa selalu mencoba untuk berdialog dengan realitas yang eksis di sekitarnya. Ketika suatu bahasa tidak mampu membuka diri untuk berdialog dengan realitas, maka dengan sendirinya akan punah ditelan oleh zaman.

Suatu bahasa bisa dipengaruhi oleh bahasa lainnya sehingga menjadikan bahasa tersebut menjadi kaya, seperti bahasa Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda, Inggris, Arab, dll.  Banyaknya perbendaharaan dalam bahasa kita seperti knalpot dari bahasa Belanda, opsi dan produksi dari bahasa Inggris, majelis dan ikhlas dari bahasa Arab, dll menunjukkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mampu berdialog dengan realitas, mengapa?

Secara historis, negara kita adalah negara yang pernah dijajah oleh Belanda, sehingga kita menyerap beberapa perbendaharaan kata dalam bahasa Belanda. Begitu juga halnya dengan bahasa Inggris karena bahasa ini menjadi dominan dalam seluruh sektor kehidupan modern akibat kuatnya arus globalisasi yang mengaburkan batas-batas kebudayaan dan juga tentunya bahasa Arab yang merupakan bahasa pengantar Al Qur’an yang merupakan kitab suci agama Islam, agama mayoritas di negeri ini.

Bahasa Indonesia yang tidak lain adalah bahasa nasional kita, merupakan sebuah aset kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan ditengah dominasi bahasa-bahasa asing yang membuat masyarakat kita menjadi gagap akan bahasanya sendiri. Bahasa Indonesia telah diproklamasikan oleh pemuda-pemuda kita pada tahun 1928 sebagai bahasa persatuan. Bahasa kita ini merupakan pengembangan dari bahasa Melayu yang merupakan bahasa yang memiliki jumlah penutur yang sedikit dibandingkan dengan bahasa Jawa yang merupakan bahasa mayoritas di negeri ini. Salah satu alasan mengapa bahasa Melayu dipilih karena bahasa ini dianggap cukup egaliter dan tidak terlalu memiliki hirarki yang kompleks seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Madura yang lebih paternalistik bahkan feodalistik (Madjid, 2002).

Menurut Ajip Rosidi (2006: 141) bangsa kita harus bangga dengan bahasa Indonesia, karena bangsa kita tidak perlu menghabiskan banyak energi dalam menentukan bahasa nasional (baca: resmi) ditengah banyaknya bahasa-bahasa nusantara yang eksis di kepulauan Indonesia ketika kita baru saja terbebas dari revolusi kemerdekaan pasca perang dunia kedua. Lebih jauh lagi, Rosidi mengatakan bahwa kita tidak perlu mengikuti jejak India yang pada awal kemerdekannya memiliki 16 bahasa resmi disamping bahasa Inggris. Penguatan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional semakin menemukan gaungnya pada awal tahun 1970-an (Irwan Abdullah, 2007) dimana bahasa ini digunakan sebagai alat pemersatu dalam rangka menyukseskan ideologi pembangunan yang merupakan visi utama dari rezim Orde Baru.

Menurut Kramsch (2000: 3) suatu bahasa mewakili realitas budaya tertentu. Dengan kata lain sebuah bahasa mampu berfungsi sebagai identitas sosial bagi masyarakat penuturnya. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, suatui bahasa juga menyimpan nilai-nilai yang mencerminkan identitas masyarakat penuturnya. Dalam bahasa Indonesia, ketika kita mau merujuk kepada orang kedua tunggal atau jamak, maka  kita akan menggunakan kata “anda” bagi seseorang yang kita tuakan dan kita hargai dan “kamu” (dalam batas tertentu “kau”) untuk seseorang yang lebih muda. Secara implisit, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat penutur bahasa indonesia menjadikan nilai-nilai kesopanan sebagai basis utama dalam interaksi sosial mereka sehari-hari.

Lain halnya dengan bahasa Inggris, para penutur utamanya menggunakan kata “you” untuk merujuk kepada orang kedua tunggal atau jamak baik itu kepada yang tua maupun yang muda, yang kaya maupun yang miskin tanpa perlu memandang kelas sosial karena nilai yang menjadi basis utama dari masyarakat penuturnya yang berada di Amerika serikat, Inggris dan Australia adalah sangat menjunjung nilai-nilai egaliter dalam interaksi sosial mereka sehari-hari.

Yang menarik, terjadi beberapa pergeseran dalam beberapa perbendaharaan bahasa kita. Pergeseran ini disatu sisi mengikuti hukum bahasa itu sendiri yang bersifat dinamis, namun di sisi lain menggeser nilai-nilai mapan yang telah embedded yang menjadi basis utamanya. Salah satu contoh adalah penggunaan kata “aku” dan “saya”. Pada tahun 80 dan 90-an penggunaan kata “aku” cenderung dianggap kasar atau tidak sopan, sedangkan kata “saya” dianggap lebih sopan.

Pembedaan kedua kata tersebut telah diajarkan dan direproduksi dalam institusi pendidikan formal, dimana segala sesuatunya tunduk pada tafsir penguasa pada zaman itu. Akan tetapi memasuki tahun 2000an, kedua kata di atas lalu memiliki makna yang relatif sejajar, tidak ada lagi batas antara mana yang sopan dan kasar. Mengapa pergeseran ini terjadi?

Tuntutan demokratisasi yang terjadi pasca jatuhnya Orde Baru di penghujung tahun 90an, tepatnya di tahun 1998 merupakan salah satu faktor penyebab pergeseran itu terjadi. Demokratisasi yang menekankan kebebasan berekspresi dan berpendapat (kebebasan ini tidak berarti keliaran, karena kebebasan itu sendiri dibatasi oleh aturan) ternyata tidak hanya menyentuh ranah sosial dan politik, tetapi juga menyentuh ranah bahasa yang merupakan alat utama bagi manusia dalam melakukan interaksi. Dalam kasus ini, ini lagi-lagi menunjukkan kepada kita bahwa bahasa Indonesia berhasil melakukan dialog dengan realitas.

Demokratisasi dalam ranah bahasa dalam sisi tertentu berhasil membongkar watak pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto yang sangat gila hormat dan senang menciptakan hierarki dalam pelbagai aspek termasuk bahasa. Wajarlah bila beliau seperti itu, mengingat dia besar dalam kultur militer yang masih kuat dalam tradisi kepangkatan dan kultur Jawa-Hindu yang masih kuat dalam sistem kasta. Dengan kata lain, Soeharto selama ini telah  berhasil menyembunyikan watak khasnya yang sangat otoriter di balik manipulasi bahasa yang direproduksi dalam institusi pendidikan formal yang segalanya wajib tunduk dalam tafsir ideologinya.

Lalu, bagaimana nasib bahasa Indonesia ke depannya? Mampukah dia tetap berdialog dengan realitas? sejarah jua yang akan menjawabnya.

Yogyakarta, 20 November 2011.

Bibliography:

Abdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kramsch, Claire. 2000. Language and Culture. Oxford: Oxford University Press.

Madjid, Nurcholish. 2002. “Beberapa Pemikiran Ke Arah Investasi Demokrasi”, dalam Munim A. Sirry (ed.), Islam Liberalisme Demokrasi: Membangun Sinerji Warisan Sejarah, Doktrin, dan Konteks Global. Jakarta Selatan: Paramadina.

Rosidi. Ajip. 2006. Korupsi dan Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s