Sebuah Esai Tentang Perempuan (Jangan Main-Main Dengannya)

“Jika ingin memilih cewe, lihatlah masa lalunya. Jika ingin memilih cowo, lihatlah masa depannya”

Kutipan di atas adalah sebuah tweet dari seseorang di Twitter yang juga merangkap sebagai status Facebook. Dari pembacaan yang saya lakukan, saya lalu menafsirkan sekaligus menyimpulkan bahwa bila seorang laki-laki ingin memlih perempuan baik menjadi pacar atau istri, maka laki-laki harus melihat masa lalu sang perempuan. Bila masa lalunya suram, maka lebih baik dijauhi, tetapi kalau sebaliknya ya lanjutkan (go ahead).

Walaupun, pada sisi tertentu masa depan si perempuan yang memiliki masa lalu yang suram tersebut telah menjanjikan karena diimbangi dengan pendidikan atau pekerjaan yang dimilikinya, tetapi terkadang hal tersebut tetap dianggap tidak penting. Toh, bila ada  yang mau menerima masa lalunya dengan apa adanya, saya yakin itu hanya akan dilakukan oleh segelintir laki-laki saja. Kebanyakan cenderung pragmatis bukan karena atas dasar cinta tapi hanya karena dasar manfaat. Sebaliknya bila si perempuan ingin mencari cowok atau suami, maka perempuan harus melupakan masa lalu si laki-laki, dengan melihat masa depannya yang telah menjanjikan, khususnya dalam hal pekerjaan.

Terus terang, saya agak geli sekaligus nelangsa membacanya, mengapa harus ada pandangan misoginis (pandangan yang menyudutkan kaum perempuan) seperti di atas? Bila ingin dilihat lebih jauh, bukankah perempuan yang memiliki masa lalu yang suram adalah karena ulah laki-laki itu sendiri, lantas dimana tanggung jawab si lelaki? Begitupun halnya bila ingin dilihat lebih jauh, bukankah kesuksesan seorang laki-laki disebabkan karena adanya sosok perempuan hebat di belakangnya, salah satunya adalah ibu dan juga dalam batas tertentu adalah pacar atau pasangan. Akan tetapi, sungguh sangat menyedihkan bila laki-laki hanya terperangkap untuk melihat masa lalu perempuan yang suram sehingga kebaikan yang selama ini diberikan perempuan harus hilang di telan keegoisan sang lelaki atau kata lain “habis manis sepah dibuang”.

Dari pengalaman yang saya rasakan langsung, terdapat banyak laki-laki yang dengan bangga dan sombongnya menelanjangi “aib” pasangannya (khususnya pacar apalagi mantan pacar) karena  bukan rahasia lagi di kalangan laki-laki, hal ini dianggap sebagai sebuah kebanggan (pride). Saya juga dengan jujur dan rendah hati pernah melakukan itu, tetapi seiring berjalannya waktu saya lalu sadar bahwa sungguh tak ada manfaat melakukan itu karena sama saja dengan menelanjangi diri saya sendiri. Sebaliknya, kebanyakan perempuan menyembunyikan aib pasangannya dalam-dalam (khususnya dengan sang mantan pacar) karena bila mereka tidak menyembunyikannya sama saja dengan menelanjangi dirinya.

Perempuan sadar melakukan itu karena dianggap sebagai sebuah strategi agar mereka tidak mendapatkan resistensi dari masyarakat di sekitarnya. Perempuan juga sadar karena mereka adalah kaum yang selalu ingin memikirkan nama baik generasi mereka kelak. Kaum perempuan dengan ikhlas dan tegar memikul aibnya sendiri tanpa mau membebani generasi mereka. Mereka sungguh menjadi bijaksana karena selalu belajar memaafkan dirinya sendiri, karena bagaimana mungkin mereka bisa memaafkan orang lain bila mereka sendiri masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Mengapa  pandangan misoginis seperti di atas masih eksis di sekitar kita? Ini disebabkan karena unsur budaya patriarki dimana laki-laki selalu harus lebih superior dibandingkan perempuan masih sangat kuat berakar dalam budaya kita yang dalam batas tertentu didukung oleh justifikasi tafsir agama yang kaku dan tertutup. Itu bisa dilihat dengan jelas dari pelbagai pandangan buruk yang telah tertanam kuat dalam realitas masyarakat kita, seperti keharusan perempuan agar tunduk pada laki-laki. Selain itu, terdapat juga pandangan tentang keharusan agar laki-laki memiliki gaji yang lebih tinggi dari pasangannya, pandangan tentang perempuan yang harus menjadi makhluk pasif dalam mencari jodoh, pandangan tentang perempuan yang selalu  dianggap lemah, plin plan, dan hanya mengedepankan penampilan semata sehingga mereka tidak berhak untuk menjadi seorang pemimpin khususnya dalam ranah publik.

Ada banyak pihak yang sebenarnya ingin mengcounter-attack stigma buruk tadi, tetapi usaha mereka sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak realistis oleh masyarakat karena pandangan di atas telah tertanam kuat dalam alam bawah sadar masyarakat kita, lalu juga didukung oleh fakta bahwa struktur sosial kita telah mengukuhkan pandangan tersebut. Pihak-pihak yang ingin melakukan koreksi terhadap pandangan di atas selalu dianggap pro Barat dan Yahudi, anti tradisi, dianggap melenceng, dsb. Lantas, untuk apa kita memiliki pendidikan yang tinggi dan mapan kalau hanya sekedar mencari stempel (ijazah) untuk mencari kerja tetapi tidak berdampak signifikan dalam cara berpikir kita?

Bukankah selalu dikatakan bahwa manusia adalah makhluk terbaik di antara ciptaan-ciptaan Tuhan. Manusia bahkan setingkat lebih tinggi dibandingkan malaikat. Mengapa? Karena malaikat diciptakan dengan hanya memiliki nafsu baik semata. Berbeda dengan manusia, diciptakan dengan penuh kesempurnaan, sehingga mereka memiliki nafsu baik dan tidak baik (buruk). Tidak selamanya keburukan itu jelek karena tidak akan ada ukuran baik tanpa ada yang buruk. Karena itu, Tuhan memberikan manusia sebuah potensi akal yang malaikat sendiri  tidak miliki.

Untuk apa Tuhan memberikan akal? agar manusia senantiasa mengoptimalkannya untuk menciptakan peradaban. Dan salah satu prakondisi untuk melakukan itu adalah diperlukan sebuah usaha yang serius dalam perubahan  struktur sosial yang tidak berkeadilan. Meskipun, tak dipungkiri makna keadilan itu sendiri sangatlah abstrak dan elusif, tetapi hal yang terpenting untuk dilakukan dalam mencapai keadilan tersebut adalah perlunya semua kaum saling merangkul satu sama lain untuk memperjuangkan hak-hak fundamental kaum perempuan, yaitu hak pendidikan, hak untuk didengarkan dan hak untuk tidak didikte agar mereka kelak mampu mengaktualisasikan dirinya.

Saya yakin bahwa semua perempuan baik itu yang memiliki masa lalu yang baik dan buruk (suram) tentunya akan merindukan sebuah kehidupan harmonis yang penuh cinta dan kasih sayang kelak karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mencintai kehanifahan (baca: cinta suci). Cinta diibaratkan sebagai sebuah matahari yang tak pernah terkontaminasi oleh debu dunia. Matahari selalu memberikan cahayanya dengan ikhlas tanpa memandang latar belakang apapun. Matahari selalu menyiapkan dirinya untuk menerangi isi dunia dalam keadaan apapun.

Lebih jauh lagi, mengapa laki-laki masih jauh terperangkap dalam melihat masa lalu perempuan guna mencapai hasrat dan keinginannya? Karena paradigma laki-laki masih terperangkap dalam dikotomi yang selalu membedakan antara perempuan sebagai pacar/pasangan dan perempuan sebagai ibu. Padahal kata perempuan adalah sebuah kata yang sakral yang tentu tidak bisa didikotomikan ibarat sebuah sepatu yang tidak bisa dipisahkan antara sisi kanan dan kiri karena keduanya memiliki substansi yang sama yaitu sepatu. Begitu halnya dengan perempuan, tidak bisa dipisahkan antara pacar/pasangan dan ibu karena keduanya memiliki substansi yang sama, yaitu perempuan.

Tak heran bila ada pepatah yang mengatakan bahwa “perempuan adalah tiang negara” karena bagaimana mungkin sebuah bangsa bisa maju bila tidak ada limpahan cinta dan kasih sayang dari kaum perempuan. Rasanya, pepatah yang mengatakan “cubitlah dirimu sebelum mencubit orang lain” menjadi penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita mampu memperlakukan kaum perempuan dengan sepantasnya. Kita harus berpikir bahwa menjatuhkan dan melecehkan perempuan sama saja dengan mengizinkan orang lain untuk menjatuhkan dan melecehkan ibu dan saudara perempuan kita.

Karena itu, memanusiakan manusia wajb hukumnya dan harus kukatakan aku cinta perempuan dengan segala kekuranganku dan kekurangannya.

Yogyakarta, 8 November 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s