Gerakan Keagamaan dalam Dinamika Dinamika Kampus (2)

Suatu hari seorang teman bertanya kepada penulis, kenapa ya banyak Gerakan Islam konservatif berbasis masjid atau musholla bermunculan di universitas umum (universitas yang tidak berafiliasi agama) dibandingkan universitas agama (baca: Islam)?

Sontak penulis terpancing untuk menemukan jawabannya. Untuk melakukan itu, penulis mencoba untuk menelusuri rekam jejak segala elemen di lingkup kampus, baik itu mahasiswa, dosen, dll agar mampu membantu mengungkap masalah ini. Tulisan ini menarik karena ingin menjawab fenomena yang luput dari pandangan kita ini. Tulisan ini juga akan memperlihatkan bagaimana kampus bersentuhan dengan dunia gerakan kemahasiswaan yang penuh dinamika.

*****

Menjamurnya gerakan-gerakan kemahasiswaan yang banyak bermunculan di dunia kampus adalah implikasi dari kebebasan berekspresi yang didapatkan pasca Orde Baru. Hal ini membawa angin segar bagi gerakan Islam kampus khususnya yang berwarna konservatif atau sebuah gerakan Islam yang sangat ‘kaku’ dan tekstual dalam pembacaan teks-teks kitab suci. Selain itu, gerakan Islam ini juga memiliki tujuan utama untuk mengembalikan kejayaan Islam masa lalu dengan menjadikan Islam sebagai bendera dan ideologi negara.

Dulunya, gerakan Islam kampus ini hanya melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi alias dakwah bawah tanah dalam bentuk pengajian dan kelompok studi di masjid atau mushalla kampus untuk menyebarkan ideologi mereka. Ini disebabkan karena kebijakan Soeharto di bawah peraturan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) 1978  pada waktu itu, melarang mereka melakukan ekspresi politik di luar ideologi Pancasila tafsiran Orde Baru. (Hwang, 2011).

Dalam dakwahnya, para aktifis Islam konservatif tersebut selalu mengatakan bahwa kebangkitan Islam telah merambah di segala penjuru negeri termasuk di dunia kampus, dunia dimana kebebasan berpikir mampu ditampung dan diakomodasi. Mereka lalu menggalakkan pola hidup Islami yang menekankan simbol kesalehan dengan menggunakan baju koko, celana jingkrang, berjanggut bagi yang laki-laki dan berjilbab panjang bahkan bercadar bagi perempuan layaknya wanita di Arab. Tak lupa, mereka juga menggunakan beberapa istilah Arab dalam aktifitasnya seperti ikhwan, akhwat, mabit, shaum, tarbiyah, dll. Mereka melakukan itu sebagai upaya reproduksi untuk menjembatani ekspresi kerinduan pada masa lalu ke dalam konteks kekinian (Irwan Abdullah, 2007: 52), yaitu kehidupan ala Nabi Muhammad SAW.

Bila ingin dilihat lebih jauh, sesungguhnya kebangkitan Islam yang didengungkan oleh mereka tidak lebih dari sebagai sebuah kebangkitan identitas. Buktinya, mereka menggunakan simbol-simbol yang sebelumnya saya sebutkan, tak lebih dari sebuah cara bagi mereka untuk menonjolkan identitasnya di tengah kelompok kemahasiswaan lainnya. Bahkan lebih jauh, ekspresi kebudayaan yang memuat berbagai nilai, salah satunya adalah nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi pedoman tingkah laku dalam pergaulan sosial tidak berjalan sebagaimana mestinya (Irwan Abdullah, 2007: 51).

Mereka hanya menjadikan ekspresi kebudayaan dalam bentuk simbol keagamaan hanya sebagai “barang” untuk menegaskan identitas kelompoknya (Irwan Abdullah, 2007: 51) seperti yang penulis amati sendiri ketika masih kuliah di Universitas Hasanuddin dimana banyak menjamur aktifis gerakan Islam. Kebanyakan dari aktifis tersebut khususnya aktifis perempuan (akhwat) lebih memilih untuk bergaul di internal mereka sendiri, yaitu di masjid/musholla yang menjadi basis pergerakan mereka dengan menghabiskan waktu untuk membahas materi keagamaan dibandingkan materi lainnya, meskipun dalam batas tertentu mereka juga membahas tentang “percintaan”, namun hanya terbatas dalam pembicaraan interpersonal di kalangan mereka.

Mereka (akhwat) lebih memilih untuk bergaul di antara sesama komunitasnya karena mereka khawatir akan terkontaminasi dengan kehidupan yang “sekuler”. Menurut mereka, perempuan-perempuan di luar sana kebanyakan masih belum sepenuhnya menerapkan gaya hidup Islam yang autentik menurut tafsir mereka karena masih menerapkan gaya hidup yang tidak Islami seperti berpacaran dan tidak berjilbab. Toh, bila ada yang menggunakan jilbab, itu masih hanya sebatas jilbab “gaul”.

*****

Bila ingin ditelusuri, cikal bakal gerakan Islam kampus yang berwarna konservatif pertama kali muncul di universitas  umum, yaitu di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) (Qodir, 2009). Tesis ini menguatkan pandangan bahwa benih-benih gerakan Islam tumbuh lebih subur di universitas umum dibandingkan universitas agama.

Munculnya fenomena ini disebabkan karena kebanyakan mahasiswa dari universitas umum datang dan berasal dari sekolah non-agama (SMA negeri/swasta) dimana materi  agama yang diajarkan  sangat minim yang hanya berkutat dalam masalah ritual dan normatif, seperti tata cara berwudhu, salat, puasa, dll. Sebaliknya, wacana Islam klasik yang penuh dengan dinamika dan kompleksitas seperti fikih, tasawuf, pemikiran dan sejarah kebudayaan Islam kurang dieksplorasi lebih jauh, sehingga hal ini lalu mempengaruhi cara pandang mahasiswa mendefinisikan agama (Islam).

Akhirnya, ketika menginjakkan diri di dunia kampus yang penuh dinamika dan anti kemapanan, mereka lalu mengalami disorientasi, sehingga mereka merasa perlu untuk mencari wadah guna mengekspresikan rasa ingin tahu mereka, salah satunya melalui media agama dan dakwah. Akhirnya beberapa dari mahasiswa tersebut merasa tertarik untuk mengambil bagian dalam berbagai pesantren kilat  dan kegiatan tarbiyah yang dilakukan oleh gerakan Islam kampus yang tanpa disadari memiliki ideologi dan kepentingan tertentu. Kebanyakan dari mereka tertarik untuk bergabung di gerakan Islam kampus tersebut sebagai sarana untuk mempelajari Islam lebih dalam.

Akhirnya, ketika mereka berjumpa dengan berbagai doktrin-doktrin keagamaan yang sengaja diintrodusir oleh gerakan Islam konservatif dimana mereka mengambil bagian, mereka secara taken for granted menerima dan mengikuti doktrin tersebut, terlebih bila doktrin tersebut diselipi dengan embel-embel yang bernada mengancam seperti “di bakar api neraka bagi yang tidak menjalankan doktrin tersebut”. Akhirnya, mereka kehilangan daya kritis untuk mengcounter-attack doktrin tersebut karena ketidakmapanan wacana Islam yang mereka miliki khususnya dalam wacana Islam klasik. Ketidak-mapanan mereka terhadap wacana agama makin menjadi-jadi karena selama menuntut ilmu di di universitas umum, para mahasiswa hanya disuguhi mata kuliah agama sebanyak 2 sks, sehingga hal ini semakin mengukuhkan pentingya keberadaan gerakan Islam konservatif di kampus yang menjadikan Mesjid atau Musholla sebagai basis dakwah dan pergerakannya.

Sebaliknya, di universitas Islam kebanyakan mahasiswanya adalah alumni pesantren dimana ketika masih nyantri, mereka banyak bersentuhan dengan wacana Islam klasik seperti fikih, tasawuf, kitab kuning, sejarah pemikiran dan kebudayaan Islam dll, sehingga mereka memiliki wacana keagamaan yang cukup mapan. Kelak ketika mereka menjadi mahasiswa di universitas Islam, mereka tidak serta merta taken for granted terhadap doktrin-doktrin keagamaan yang berkembang di sekitar mereka. Mereka selalu kritis melihat pemikiran tersebut dari pelbagai sudut pandang yang mereka miliki. Ditambah dengan fakta lain bahwa mereka sudah ‘bosan’ berkutat dengan wacana keagamaan karena sejak dari pesantren mereka belajar tentang Islam sampai masa kuliah sehingga mereka kurang tertarik untuk bergabung di gerakan Islam kampus . Mereka lebih memilih menikmati waktu luang mereka untuk mendalami bidang keilmuan lainnya.

Fakta lain juga menunjukkan bahwa kebanyakan dosen di universitas umum kurang memiliki wacana keIslaman yang mapan dibandingkan dosen di universitas agama (Islam) yang selalu mengkaji Islam secara mendalam, sehingga dosen di universitas agama mampu melakukan fungsi check and balance terhadap berbagai ideologi Islam yang berkembang di kampus mereka. Sebaliknya,  karena lemahnya wacana Islam yang dimiliki oleh dosen-dosen di universitas umum sehingga ini berimplikasi pada berkurangnya intensitas mereka untuk melibatkan diri dalam diskursus keagamaan yang berkembang universitas mereka, sehingga diskursus keagamaan cenderung relatif berjalan satu arah. Melihat adanya peluang yang terbuka, wacana keIslaman yang berkembang di kampus lalu diambil alih dan kemudian dikuasai oleh para aktifis gerakan Islam konservatif.

Untuk mengukuhkan eksistensinya, mereka lalu menggunakan berbagai strategi guna menyebarkan ideologinya, salah satunya adalah memilih penceramah untuk memberi khutbah pada acara salat Jumat dari salah satu ustadz/dai yang merupakan bagian dari kelompok atau afiliasi mereka. Para aktifis Islam konservatif tersebut juga menerbitkan buletin mingguan yang berisi tentang tafsir Islam yang dianut oleh ideologi mereka.

Kembali ke persoalan dosen di universitas umum, kebanyakan dari mereka memiliki waktu yang minim untuk mendalami kajian dan wacana keIslaman karena kebanyakan dari dosen-dosen tersebut lebih sibuk berkutat dengan wacana keilmuan yang menjadi konsen mereka agar kelak mampu menjadi pakar di bidangnya. Hal ini juga diperkuat oleh fakta lain bahwa pemerintah selama ini telah melakukan dikotomi terhadap dunia pendidikan kita yang dikelola dalam dua atap dimana universitas yang mengajarkan ilmu-ilmu umum/sekuler mencakup ilmu sosial, humaniora, dan alam dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan universitas yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dikelola oleh Kementerian Agama sehingga wacana keagamaan yang komprehensif menjadi ‘absen’ di lingkup universitas umum yang dipayungi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pengkotak-kotakan pendidikan ini tanpa disadari juga telah membuat kita melakukan dikotomi antara sekuler dan agama. Padahal menurut hemat penulis, ilmu agama sebenarnya tidak boleh diterjemahkan sempit yang hanya berkutat dalam masalah ritual, fikih, dan tasawuf semata, melainkan ilmu agama juga mencakup ilmu-ilmu umum lainnya seperti sosiologi, biologi, matematika, dll karena pada akhirnya semua akan berfungsi saling melengkapi satu dengan lainnya, khususnya dalam menjawab tantangan-tantangan kekinian yang dihadapi oleh manusia. Kenyataan juga membuktikan bahwa realitas dunia nyata dengan segala kompleksitasnya tidak selamanya bisa dipecahkan hanya dengan bermodalkan ilmu-ilmu Islam saja, melainkan perlu ditunjang dengan ilmu-ilmu lainnya.

*****

Lalu, pertanyaan yang muncul berikutnya adalah bagaimana arah gerakan Islam kampus yang berwarna konservatif tersebut ke depannya, apakah mereka mampu memberantas korupsi, kemiskinan dan kebodohan dengan tuntunan ideologi Islam yang mereka anut? atau apakah gerakan ini tak lebih sebagai penonjolan identitas? atau lebih ekstrim lagi, apakah gerakan Islam ini hanya sebagai perpanjangan tangan dari partai politik tertentu untuk mencari massa, dimana ketika orang-orang mereka telah masuk dalam sistem, maka idealisme Islam yang mereka anut perlahan-lahan menjadi luntur seiring berjalannya waktu menuju idealisme koruptor yang rakus dan tidak malu memakan uang rakyat? Biarkan waktu yang menjawab.

Yogyakarta, 29 Oktober 2011

Bibliography:

Abdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hwang, Julia Chernov. 2011. Umat Bergerak: Mobilisasi Damai Kaum Islamis di Indonesia, Malaysia, dan Turki. Jakarta: Freedom Institute.

Qodir, Zuly, 2009. Gerakan Sosial Islam: Manifesto Kaum Beriman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s