Bagaimana Masa Depan Sepakbola Kita?

Indonesia kalah lagi. Para penikmat dan pecinta sepakbola di negeri ini tentunya menjadi kecewa atas hasil buruk yang ditorehkan oleh Tim Nasional (Timnas) sepakbola kita, mengingat sepakbola merupakan olahraga paling populer di negeri ini yang juga diharapkan sebagai alat yang mampu menaikkan pamor kita sebagai bangsa di mata dunia internasional.

Kita terpaksa harus gigit jari karena timnas kita harus mengakui kehebatan timnas Qatar yang berkesudahan 3-2 untuk keunggulan Qatar yang diadakan di kandang sendiri di Gelora Bung Karno, Jakarta, semalam (11/10/2011) sehingga mengurangi peluang timnas kita untuk melaju di babak berikutnya. Pertandingan semalam menjadi penting karena merupakan babak kualifikasi Piala Dunia 2014 yang akan diadakan di Brasil. Terlibat dalam event empat tahunan tersebut merupakan impian bagi seluruh negara di dunia karena event ini akan menunjukkan kematangan sebuah tim yang akan bertemu dengan tim-tim negara lain yang memiliki kualitas dan jam terbang yang berbeda-beda. Event ini juga tentunya akan menaikkan pamor sebuah negara di mata dunia internasional.

Sudah bisa dipastikan, kekalahan timnas semalam akan menjadi sorotan publik di negara ini mengingat sepakbola kita selalu dirundung berbagai masalah yang tak berkesudahan, mulai manjemen kepengurusan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang masih bobrok dan amburadul, kompetisi yang tidak berjalan dengan baik, sampai dengan timnas kita yang miskin gelar dan prestasi. Seperti beberapa waktu silam, PSSI kita hanya menempati posisi runner-up di Suzuki Cup yang dulunya dinamakan Tiger Cup. Timnas kita tidak pernah menempati posisi juara dalam kejuaraan ini. Prestasi tertinggi Timnas di kejuaraan ini hanya menempati posisi runner up. Indonesia harus menjadi legowo terhadap rival-rivalnya di ASEAN seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang telah merasakan indahnya menjadi juara.

Bila di ASEAN sendiri, timnas kita belum mampu menorehkan gelar dan prestasi, bagaimana mungkin timnas kita mampu bertanding di level yang lebih tinggi, katakanlah di tingkat Asia apalagi di kejuaraan yang berkelas dunia seperti Piala Dunia. Di level asia saja, timnas kita selalu dipecundangi bila bertemu Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi. Apalagi ingin menghadapi tim sekelas Brasil, Spanyol, Argentina, Jerman, Italia. Namun, yang sedikit membanggakan karena timnas kita berhasil menahan imbang salah satu tim terkuat di Asia, yaitu Arab Saudi 0-0 dalam pertandingan uji coba di Stadion Bukit Jalil, Malaysia beberapa waktu silam (07/10/2011). Sontak hal ini menaikkan kepercayaan diri pemain timnas, sehingga menghadapi timnas Qatar, mereka tampil percaya diri sampai beberapa kali merepotkan pertahanan lawan. Barangkali, kekalahan semalam terjadi karena salah satunya adalah dewi fortuna yang belum berpihak kepada timnas kita.

Tentunya, sebagai bangsa yang besar kita tidak boleh diam melihat ini segala kekisruhan dan permasalahan yang terjadi dalam persepeakbolaan kita. Sebaliknya, kita harus tetap optimis dalam melakukan suatu langkah konkrit untuk kebangkitan persepakbolaan kita. Penulis berkeyakinan, seandainya timnas kita mampu lolos di Piala Dunia 2014, ada banyak warga negara kita yang akan meluangkan waktu dan kesempatannya untuk menikmati Piala Dunia, baik itu menonton dari dalam negeri maupun menonton langsung di Brasil. Kita bisa menyaksikan realita sosial sehari-hari dimana rakyat kita akan berduyung-duyung meramaikan segala penjuru kota untuk menonton timnas dari negara lain seperti timnas Spanyol, Argentina dan Brasil atau menonton kehebatan klub-klub besar sekelas Juventus, Barcelona, Real Madrid, atau Manchester United. Bisa dibayangkan seandainya timnas kita berlaga di kompetisi kelas dunia sekelas Piala Dunia. Maka penulis yakin rakyat kita akan sangat antusias mengikuti setiap laga.

Mengingat kebangkitan sepakbola adalah sebuah keniscayaan untuk meningkatkan pamor bangsa kita di mata dunia internasional, karena itu terdapat beberapa langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan, yaitu sebagai berikut:

Pertama, hendaknya kepengurusan PSSI diisi oleh orang-orang professional atau kata lain harus diduduki oleh orang-orang yang mengerti seluk-beluk olahraga khususnya tentang persepakbolaan. Kecenderungan kepengurusan PSSI kita saat ini adalah lebih mengutamakan orang-orang yang berjiwa politis agar mampu meraup keuntungan di dalamnya. Karena itu, untuk check and balance, Masyarakat dan media massa memainkan peran penting untuk melakukan kontrol publik kepada kinerja PSSI yang merupakan wadah persepakbolaaan kita.

Kedua, Pemerintah harus mampu bersinergi kepada pihak-pihak swasta yang kiranya memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan prestasi persepakbolaan kita.

Ketiga, PSSI harus melakukan pembibitan sejak dini dan kemudian memberikan beasiswa kepada bibit-bibit berprestasi tersebut untuk mengenyam pendidikan sepakbola di Brasil, Belanda, Spanyol, dll. Untuk mendukung hal ini pemerintah diharapkan mampu menaikkan anggaran untuk sektor olahraga khususnya sepakbola.

Keempat, PSSI harus mampu menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi kepada para pemain timnas. PSSI diharapkan harus berani menjatuhkan skorsing kepada mereka yang tidak disiplin, meskipun itu merupakan pemain pilar dalam timnas . PSSI tidak boleh takut melakukan ini agar ke depannya mampu memberi shock theraphy kepada mereka yang akan bergabung di timnas. Penulis berkeyakinan bahwa bila kita harus kehilangan satu pemain karena ketidakdisiplinan tersebut, kita tidak akan sulit untuk mencari penggantinya, mengingat negeri ini adalah negeri yang berpenduduk 240 juta lebih dimana sepakbola merupakan olaharaga terpopuler.

Kelima, PSSI harus bekerjasama dengan pihak militer untuk menggembleng mereka yang akan bergabung di timnas dalam jangka waktu yang ditentukan, sehingga pemain timnas kita kelak memiliki semangat tempur layaknya tentara yang bertempur sampai titik darah penghabisan di medan perang. Timnas kita selama ini memiliki mental kerupuk khususnya ketika ingin menghadapi tim-tim hebat. Usaha ini telah dilakukan oleh tim panser Jerman dan timnas Korea Utara, sehingga kedua tim ini mampu memberi perlawanan dalam setiap pertandingan, khususnya di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Keenam, PSSI juga perlu memberikan kelas kepribadian kepada mereka yang akan bergabung di timnas sehingga mereka kelak mampu memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, khususnya di lapangan. Kepercayaan diri ini menjadi penting karena ini merupakan salah satu aset utama dalam meraih kemenangan.

Mampukah kita melakukan itu?

Yogyakarta, 12 Oktober 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s