Arabisasi Bahasa

Bahasa adalah alat komunikasi paling efektif untuk menyampaikan pesan dalam interaksi kita sehari-sehari.  Di dunia ini terdapat berbagai macam bahasa, mulai dari bahasa dunia sampai bahasa lokal, ada yang popular bahkan ada yang hampir terancam punah.

Satu contoh kecil yang popular saat ini adalah bahasa Arab. Bahasa ini digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat di Timur Tengah seperti di Arab Saudi, Lebanon, Kuwait, Syria, Qatar, dll. Menurut pendapat orang yang mempelajari bahasa Arab, bahasa ini dapat dikategorikan sebagai bahasa yang tersulit untuk dipelajari seperti layaknya bahasa Belanda karena terdapat kerumitan dalam tata bahasa di dalamnya. Ditambah dengan fakta lain bahwa mempelajari bahasa Arab membutuhkan keekstra hati-hatian yang sangat tinggi khususnya bagi mereka yang beragama Islam karena bahasa ini merupakan bahasa Al-Qur’an.

Fenomena sosial yang terjadi akhir-akhir ini yang erat kaitannya dengan bahasa Arab adalah terjadinya pergeseran orientasi seseorang dalam menggunakan bahasa Arab khususnya di lingkungan aktifis pencinta dakwah yang berbasis di Mesjid Kampus. Sehingga tulisan ini menjadi menarik untuk dibaca karena di sisi lain tak dipungkiri juga bahwa bahasa Arab adalah bahasa popular di Indonesia selain bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, dll.

Pada awalnya, banyak mahasiswa tertarik untuk mempelajari bahasa Arab sebagai syarat untuk mengkaji kekayaan isi Al-Quran karena menurut tradisi penafsiran yang berkembang dalam lintasan sejarah, yaitu untuk menafsirkan Al Quran dibutuhkan kemampuan bahasa Arab yang mumpuni. Sehingga di beberapa gerakan dakwah kampus, pengajaran bahasa Arab merupakan salah satu program kerja yang terkadang menjadi prioritas bagi mereka agar mampu memahami isi Al Qur’an dengan baik.

Akan tetapi, penggunaan bahasa Arab ini mengalami pergeseran. Bahasa ini malah digunakan sebagai identitas simbolik bagi mahasiswa yang aktif dalam gerakan dakwah  tersebut. Ketika mereka berinteraksi, tak ayal mereka menggunakan beberapa kata dalam bahasa Arab ente, antum, ikhwan, akhwat, shaum, mabit, tarbiyah, dll (Qodir, 2009). Sehingga pertanyaan yang muncul adalah mengapa pergeseran ini terjadi?

Ada beberapa alasan pergeseran ini terjadi menurut hemat penulis:

            Pertama, karena terdapat diktum dalam ajaran Islam yang selalu memerintahkan kaum Muslim untuk mengikuti hal-hal yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya sebagai suri Tauladan dalam Islam. Akan tetapi, setiap orang memiliki perbedaan pandangan dalam menafsirkan diktum tersebut. Sebagian berpendapat bahwa mengikuti Nabi berarti mereka harus  berbahasa Arab, bersorban, bergamis, dan berjanggut (Hidayat, 2006). Meskipun di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa mengikuti Nabi berarti mengikuti segala sifat-sifat terpuji yang telah dicontohkan oleh beliau , seperti bersifat adil, jujur, amanah, bertanggung jawab, sabar , dll (Ibid.,).

Akan tetapi, di era keterbukaan seperti sekarang, penafsiran yang berbeda bukanlah menjadi sebuah masalah besar, bahkan menjadi hak bagi setiap warga negara. Dalam hal ini, para aktifis di gerakan dakwah kampus tersebut lebih memilih untuk menafsirkan diktum di atas dengan mengikuti penafsiran yang pertama sebagai upaya reproduksi untuk menjembatani ekspresi kerinduan mereka akan masa lalu ke dalam konteks kekinian (Irwan Abdullah, 2007), yaitu kehidupan ala Nabi Muhammad SAW.

            Kedua, penulis menganggap munculnya pergeseran ini merupakan gejala counter-attack terhadap hegemoni bahasa-bahasa Barat khususnya bahasa Inggris yang telah menguasai hampir seluruh sektor kehidupan. Para aktifis dakwah tersebut “merasa terpanggil” untuk mempromosikan bahasa Arab yang sering dianggap sebagai bahasa kaum Muslim, sehingga para aktifis ini mencoba untuk mempromosikan bahasa ini dari grassroot level. Salah satu caranya adalah ketika mereka berinteraksil, mereka akan menyelipkan satu dua kata dalam bahasa Arab, sehingga memunculkan rasa penasaran bagi mereka yang kurang memahami bahasa tersebut. Pada akhirnya, ini menginspirasi seseorang untuk mempelajari bahasa Arab lebih jauh lagi.

Hal ini juga didukung oleh fakta menarik lainnya bahwa mereka yang sering menyelipkan bahasa Inggris dalam obrolannya sering dianggap kebarat-baratan dan di-cap tidak nasionalis yang baru-baru menimpa artis terkenal kita, yaitu Sherina. Tetapi ini tidak terjadi bagi mereka yang sering menyelipkan bahasa Arab, hal ini dianggap biasa saja karena secara tidak langsung telah telah tertanam dalam alam bawah sadar orang Islam bahwa bahasa Arab adalah bahasa kaum Muslim, jadi tidak boleh kita mengkritik hal-hal yang berbau bahasa Arab karena takut dianggap “melawan Islam”.

            Ketiga, hal ini merupakan politik identitas bagi para aktifis dakwah tersebut karena politik identitas bertujuan untuk menciptakan garis tegas untuk membedakan golongan yang satu dengan lainnya. Dengan menggunakan (menyelipkan) bahasa Arab dalam interaksi mereka, tanpa disadari merupakan cara mereka menegaskan batas kelompok mereka dengan berbagai kelompok atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya.

Lalu, bagaimana nasib bahasa Indonesia ke depannya? biarkan waktu yang menjawab.

Bibliography:

Abdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hidayat, Komaruddin. 2006. Politik Panjat Pinang: Dimana Peran Agama? Jakarta: Kompas.

Qodir, Zuly, 2009. Gerakan Sosial Islam: Manifesto Kaum Beriman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s