Makanan, Kekayaan Lokal, dan Kearifan Pemimpin

Tak dipungkiri, saat ini kita telah terjebak dalam proses komodifikasi. Komodifikasi adalah sebuah proses transformasi nilai benda yang bersifat personal yang memiliki nilai guna menjadi benda yang memiliki nilai komoditas. Pada dasarnya, dalam menjalani kehidupan, manusia memiliki beberapa kebutuhan menurut tingkat prioritas, meliputi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang bersifat utama dan wajib dipenuhi manusia, seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang melengkapi kebutuhan primer, seperti  radio, televisi, tas, dll. Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang bersifat pelengkap, mewah dan cenderung dipenuhi oleh mereka yang telah memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya, seperti mobil mewah, Hp Komunikator, notebook merek Apple, dll.

Penulis mengambil fokus dalam hal makanan, dimana hal ini merupakan salah satu kebutuhan primer bagi manusia agar mampu bertahan hidup (survive). Sebagai contoh, orang memakan nasi dipadukan dengan ayam sebagai lauknya karena dipercaya memiliki kandungan gizi yang baik. Tetapi seiring kemajuan perkembangan teknologi informasi sehingga kebutuhan akan media sepertiTV, koran, radio, dll adalah sebuah keharusan yang tak dapat dipungkiri dewasa ini. Orang lalu berlomba-lomba menjadikan media, khususnya bagi kaum pemilik modal untuk mempromosikan barang dan jasanya, yang dikemas dengan berbagai jargon-jargon yang unik dan menarik agar mampu menghipnotis para konsumen.

Dibuatlah restoran bernama Ayam Goreng Bankstown (nama samaran), sebuah merek Franchise dari restoran luar negeri, dengan jargon “restoran anak gaul”. Jargon ini secara tidak langsung akan mempengaruhi minat orang yang melihatnya. Sehingga akan muncul kesan bahwa orang gaul pasti akan nongkrong dan makan ayam di Restoran tersebut. Dalam hal ini, makan tidak lagi dilihat dari fungsinya, tapi simbol “gaul” yang melekat di dalamnya.

Terlebih di kota metropolitan seperti Makassar dimana gaya hidup kebanyakan warganya adalah berjiwa konsumtif yang mengedepankan gengsi (prestige). Sehingga dengan adanya restoran ini, dijamin akan digandrungi oleh banyak masyarakat di kota tersebut. Apalagi bila tempatnya berada di dalam ruko atau mal karena kedua tempat tersebut dianggap representasi dari simbol modernitas. Bahkan bisa diprediksikan bahwa dalam setahun, restoran ini akan kembali modal karena symbol prestige yang terlanjur melekat ditambah dengan tempatnya yang nyaman dan bersih. Hal ini juga didukung oleh fakta lain bahwa semakin sulitnya menemukan tempat makan tradisional di kota Makassar, mengingat kota ini selalu sibuk berkemas menuju “kota modern.”

Kebanyakan pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan telah digusur oleh pemerintah kota dengan dalih “keindahan tata kota,” padahal ketika berkampanye, para pengambil kebijakan yang duduk di pemerintahan tersebut secara berkoar-koar mengatakan bahwa “nanti saya akan melindungi nasib rakyat kecil” tapi setelah naik, ternyata lupa kacang akan kulitnya.

Yang membuat kita miris adalah mengapa unsur-unsur budaya lokal kita tidak diapresiasi dan diberi tempat, yang ada malah mengalami proses peminggiran. Entahlah, mungkin karena dianggap tidak modern lagi.

Sebagaimana yang telah penulis bahasakan sebelumnya bahwa saat ini, kita sulit mencari pedagang kaki lima yang menjajakan makanan tradisional di pinggir jalan. Kenapa di pinggir jalan? karena ada seni tersendiri ketika nongkrong sambil makan khususnya lesehan dan bercerita di pinggir jalan, yang sebenarnya merupakan hal yang unik yang hanya bisa kita temukan di negara ini. Selain itu, kita turut memberi andil untuk memajukan perekonomian rakyat kecil dan juga turut memelihara aset kebudayaan lokal yang bercorak Indonesia yang mengedepankan semangat kekeluargaan, bukan kebudayaan luar yang memiliki banyak perbedaan dengan jati diri bangsa kita.

Toh, bila kita menemukan makanan tradisional di kota ini, itu pun telah “dilokalisasi dan ditata sedemikian rupa” agar tidak mengganggu “keindahan tata kota.” Padahal para pengambil kebijakan lupa bahwa pedagang kecil ini juga punya keluarga yang ingin dinafkahi layaknya keluarga mereka. Pemerintah juga lupa belajar dari sejarah bahwa salah satu pemicu revolusi rakyat berasal dari solidaritas rakyat kecil yang merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintahnya.

Saat ini, bila kita ingin menemukan makanan tradisional di kota ini, tempatnya kebanyakan telah di sulap menjadi ruko dan mal. Karena pada umumnya pemilik dagangan di tempat tersebut adalah kaum menengah ke atas, sehingga mereka memiliki modal yang cukup berlebih. Dengan modal inilah, mereka dapat menggunakan media TV, koran dan radio sebagai wadah untuk mempromosikan produk mereka dengan jargon-jargon yang bombastis agar mampu menghipnotis para konsumen dengan menampilkan bahwa rumah makan/restoran mereka adalah tempat yang nyaman, bersih, aman, dan sehat, padahal belum tentu sepenuhnya benar, bukan begitu?

Malah bila kita ingin kritis, justru menjamurnya ruko dan mal inilah yang telah menyebabkan kota ini menjadi rawan banjir ketika musim hujan telah tiba. Ini disebabkan, karena tidak ada lagi tempat resapan air, akibat menjamurnya ruko dan mal bagaikan kacang.

Belajar dari Yogyakarta

Pemandangan sebaliknya terjadi di kota Yogyakarta, dimana dengan mudahnya kita menemukan pedagang kaki lima di pinggir jalan, khususnya tempat makan lesehan yang menjajakan berbagai macam pilihan makanan tradisional seperti Ayam Goreng Penyet, Gado-Gado, Gudeg, Batagor, Bakso, dll yang merupakan kekayaan lokal bangsa kita.

Tak dipungkiri, apa yang membuat Yogyakarta seperti ini adalah karena kuatnya kewibawaan Sultan Hamengkubuwono X sebagai penjaga gerbang kekayaan lokal. Kota ini adalah sebuah kota modern, dimana tidaklah sulit untuk menemukan ruko, mal, dan simbol modernitas lainnya. Mengingat, Sultan sebagai pemimpin tertinggi di kota ini, sangatlah terbuka dengan hal tersebut, tapi di sisi lain juga tetap menjaga kekayaan lokal.

Bila kita mengunjungi Yogyakarta persis dekat Keraton yang juga rumah kediaman Sultan, kita dengan mudah menemukan warung-warung yang berbaris di pinggir jalan. Begitu pula, tempat-tempat lain di kota ini. Setiap orang saling berlomba-lomba menikmati makanan yang mereka pesan. Identitas artifisial sejenak mereka lepaskan dalam menikmati hangatnya kebersamaan yang egaliter.

Bisa dikatakan, warung-warung tersebut  pengunjungnya tidaklah kalah dengan restoran-restoran yang berada di ruko dan mal. Sultan tidak pernah melarang para pedagang kaki lima tersebut untuk menggelar dagangan mereka. Sultan hanya mengingatkan kepada mereka agar senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan di tempat mereka menggelar dagangan.

Bagaimana dengan Makassar, apakah pedagang kaki lima bisa menggelar dagangan di depan rumah kediaman para pejabat-pejabatnya? Sulit untuk menjawab ini, bukan. Sungguh tidaklah adil untuk membandingkan Sultan di Yogyakarta dengan pejabat-pejabat di Makassar, tapi apa salahnya bila kita saling bertukar informasi kemudaian saling belajar satu sama lain dalam hal kebaikan. Toh, pada akhirnya untuk kemaslahatan kita juga kan, bukan begitu?

Jadi, strategi agar kekayaan lokal kita tidak tergerus oleh modernisasi adalah para pedagang kaki lima ditantang untuk lebih kreatif dan mengutamakan pelayanan yang baik dan prima kepada konsumen. Tak lupa, agar tetap senantiasa menjaga mutu dan kebersihan dagangannya. Selain itu, diperlukan juga kearifan seorang pemimpin yang mampu menjadi garda terdepan dalam melestarikan kekayaan lokal kita agar dapat menjadi panutan (role model) bagi bangsa kita.

Dalam hal ini, Sultan telah mengajarkan kepada bangsa kita bahwa meskipun beliau adalah sosok yang kaya, sukses, dan terkenal, tetapi tdk mengurangi kecintaannya sama sekali pada kekayaan lokal bangsanya. Bukankah banyak dari kita masih malu dan gengsi dengan kekayaan lokal bangsa kita, padahal kita sebenarnya adalah korban dari modernisasi yang tak berperikemanusiaan yang telah mematikan kekayaan lokal kita secara perlahan-lahan, bukan begitu?

Yogyakarta, 23 Februari 2011 ketika saya memikirkan seseorang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s