Agama Hanya Tinggal Nama

Munculnya pelbagai permasalahan yang menyayat hati umat manusia, seakan-akan secara tidak langsung menggugat fungsi dan peran agama dalam menyikapi realitas sosial yang sangat kompleks saat ini. Seperti terjadinya ketegangan antar agama di Bekasi baru-baru ini, undang-undang nikah siri yang masih menjadi polemic, korupsi berjamaah di segala sector termasuk kasus markus alias makelar kasus, dan lain-lain.

Ketika membuka lembaran-lembaran sejarah agama dunia, sesungguhnya sebuah agama lahir dari rahimnya sebagai motivator pembebasan, transformasi sosial dan pencipta peradaban yang nyata. Contohnya sebagaimana Figur Muhammmad hadir dengan misi profetiknya yang menekankan pada pembebasan sosial yang dibawa oleh agamanya di tengah kejamnya budaya Arab Jahiliyah yang cenderung mensubordinasikan  dan menindas kaum perempuan, ditambah semakin kencangnya arus konflik antar kabilah (clan) sehingga menciptakan instabilitas dalam lingkungan sosial. Muhammad dengan segenap kemampuannya berhasil mentransformasi doktrin/ ajaran-ajaran agama untuk didialogkan dengan realitas sosial yang pada akhirnya menciptakan sebuah pembebasan sosial yang nyata.  Muhammad pada akhirnya telah berhasil mewujudkan sebagaimana yang dikatakan Emile Durkheim bahwa agama merupakan perekat sosial (social glue), Muhammad telah mengubah paradigma orang-orang Arab dimana persaudaraan diletakkan atas dasar agama, bukan atas dasar kabilah.

Akan tetapi saat ini yang terjadi justru sebaliknya, agama digugat fungsi dan perannya, agama hanya menjadi pasif dan ajarannya hanya bersifat religious atau kata lain cenderung hanya berlaku di Mesjid, Gereja, Pura, dan tempat ibadah lainnya, begitupun agama hanya digunakan ketika berdiskusi dengan pemuka-pemuka agama tetapi fungsi pembebasan, transformasi sosial, fungsi motivator peradaban menjadi turun mesin, mengapa??? Ini disebabkan, karena beberapa dari pemeluk-pemeluknya hanya sibuk mementingkan dirinya sendiri dan banyak yang jatuh dalam jurang kepentingan sesaat, contohnya Indonesia dimana mayoritas orang beragama, tetapi beberapa dari mereka, kelakuannya cenderung tidak beragama. Mereka tetap melakukan korupsi berjamaah, seakan-seakan meraka bearsumsi bahwa ajaran agama hanya cukup di tempat ibadah, sehingga yang muncul hanaya sebuah kesalehan yang pincang yang hanya menekankan aspek kesalehan religious dan mengabaikan aspek kesalehan sosial.

Di sisi lain, undang-undang nikah siri yang masih menjadi polemic, dimana telah terbukti merugikan kaum perempuan dan pihak anak. Tetapi beberapa tokoh-tokoh agama berdalih bahwa pernikahan dalam Islam telah sah selama ijab Qabul dihadiri oleh Wali dan dua orang saksi. Yang sungguh tidak disadari oleh mereka bahwa kita hidup dalam konteks Indonesia dimana segala hal harus taat dan patuh pada undang-undang yang berlaku dan fungsi negara seyogyanya melindungi hak warga negaranya. Inilah yang mengkhawatirkan, dimana nikah siri  banyak merugikan kaum perempuan, jadi hendaknya ketika duduk mendiskusikan masalah ini, tidak hanya menggunakan pendapat sepihak dari tokoh-tokoh agama, tetapi pihak perempuan hendaknya diberi peran dalam memberi masukan dalam hal ini mengingat beberapa dari mereka telah menjadi korban pernikahan siri sehingga bisa menjadi evaluasi kedepannya agar  bisa mengurangi korban-korbannya.

Melihat realitas tersebut, saya Khawatir dengan apa yang dikatakan Karl Marx bahwa agama hanya opium yang bisa membuat seseorang kecanduan sehingga melupakan realitas sosial yang terjadi di sekitarnya, pernyataan ini didasari oleh pengalaman Marx ketika menyaksikan bagaimana doktrin agama tidak bisa membebaskan manusia dari seabrek kungkungan masalah, agama cenderung hanya menjadi pasif bahkan kadang-kadang mengafirmasi kepentingan-kepentingan sesaat para pemimpinya. Inilah yang benar-benar terjadi saat ini , agama kehilangan misi profetiknya, agama hanya menjadi tameng dari kemunafikan kita. Kita melakukan sesuatu hal yang kadang-kadang bertentangan dengan akal sehat kita tetapi dengan dalih agama kita melakukannya. Seperti dengan seenaknya kita menghina orang yang berbeda sekte  atau berbeda agama dengan kita  bahkan kita membakar rumah ibadah mereka dan menganggap bahwa apa yang telah kita  lakukan diafirmasi oleh agama yang kita anut dan merupakan sebuah kebajikan yanga agung meskipun secara akal sehat itu sangat bertentangan. Demikianlah, realitas nyata yang terjadi disekitar kita.

Karena itu perlunya kita membaca doktrin-doktrin keagamaan sesuai realitas sosial dan mengkajinya dari segala aspek sehingga bisa mengembalikan fungsi dan peran agama pada misi profetiknya dalam melakukan pembebasan, transformasi sosial, dan motivator peradaban yang nyata. Bila agama tidak bisa melakukan itu, maka bersiaplah untuk ditinggalkan para penganut-penganutnya.

Wallahu Alam Bissawab.

Makassar, 12 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s