Syirik Zaman Modern

Ketika ditanyakan dosa apa yang paling besar yang tidak akan diampuni oleh Tuhan (Allah)???Semua orang pasti akan serentak mengatakan syirik atau perilaku menyekutukan Tuhan.Perilaku syirik ini apabila dibiarkan akan merusak nilai-nilai Tauhid. Dengan hilangnya paham Tauhid, maka hilanglah iman seseorang yang juga berdampak pada berkurangnya rasa aman.

Nabi Muhammad SAW adalah salah satu figur historis yang berhasil memerangi syirik pada zamannya. Nabi dalam hal ini secara substansial berarti wakil yang dikirimkan Tuhan untuk menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kedamaian, kejujuran, dan memberantas segala bentuk penindasan dan ketidakadilan sosial. Atau kata lain dapat dikatakan bahwa Nabi merupakan agen Tuhan yang ditugaskan dalam melakukan transformasi sosial ke arah yang lebih baik.

Tuhan Melalui malaikat Jibril, menurunkan firman dalam bentuk kalam Allah yaitu Al-Quran. Salah satu ayat pertama dalam al Qur’an adalah iqra atau bacalah. Muhammad diperintahkan oleh Tuhan untuk membaca, dalam konteks ini bukan seperti membaca yang lazimnya kita lakukan sekarang, seperti membaca buku, majalah, koran, dsb.

Akan tetapi, lebih kepada membaca tanda-tanda zaman. Dalam hal ini, kita diajak untuk bagaimana membaca situasi zaman yang ada disekitar kita, yang dampaknya mampu merusak tatanan nilai-nilai kemanusiaan. Pada zaman Nabi, salah satu masalah yang sangat krusial  adalah subordinasi kaum perempuan, dimana waktu itu sering diidentikkan dengan zaman jahiliyah atau zaman kegelapan. Seorang ibu enggan melahirkan anak perempuan karena disinyalir membawa malapetaka, sehingga bayi perempuan yang lahir pada waktu itu, tidak segan untuk dikubur hidup-hidup. Selain itu banyak perempuan dijadikan budak-budak oleh orang-orang yang kaya dan kemudian hak-haknya dilucuti. Lebih ironis lagi ketika perempuan dijadikan komoditas yang tidak punya kekuatan dan hak pilih, sehingga katakanlah mereka ingin menikah, ayah atau walinya memiliki hak mutlak dalam mencarikan mereka pasangan hidup dan sang anak wajib menerimanya, sehingga muncul kecenderungan bahwa  perempuan adalah kaum kelas dua.

Tetapi, seiring dengan amanah sosial yang Nabi emban, beliau lalu melakukan transformasi sosial dengan mengangkat derajat/posisi kaum perempuan sejajar dengan kaum laki-laki. Cara yang beliau lakukan adalah salah satunya adalah memberikan kebebasan untuk memilih pasangan kepada anaknya. Hal ini merupakan sebuah terobosan yang dilakukan Nabi dimana memutus mata rantai tradisi yang telah mapan dan mendarah daging di dunia Arab pada waktu itu.

Selain itu, Nabi juga menghidupkan tradisi intelektual kepada kaum perempuan. Perempuan pada zaman Nabi, sering diajak berdiskusi di mesjid dalam mencari solusi akan masalah-masalah yang dihadapi umat pada waktu itu. Sehingga tak mengherankan, Aisyah istri Nabi pada waktu itu, muncul sebagai sosok yang sangat terkenal dan disegani karena kepiawaiannya  dan kecerdasannya dalam bidang syariat, politik, pemerintahan, dll.

Tugas berat yang tak kalah berat diemban oleh Nabi adalah bagaimana memberantas kaum Politeis di Mekkah. Seperti yang kita tahu bahwa Nabi menghadapi cobaan berat  dalam melakukan ini karena harus diperhadapkan oleh orang-orang yang satu suku dengannya ditambah karakter keras dan beringas masyarakat Quraisy pada waktu itu yang sangat membenci Islam. Mereka sangat membenci Nabi, terlebih ketika beliau memproklamasikan syahadat, bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya yang secara tidak langsung akan mengganggu status quo mereka dan tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah pastinya akan terabrogasi (tergantikan) oleh konsep Tauhid Islam yang menekankan tentang Keesaan Allah.

Menurut hemat saya, secara substansial yang ingin ditekankan oleh konsep syirik berdasarkan contoh-contoh di atas adalah adanya kepercayaan akan tuhan-tuhan palsu yang hidup dan bersemayam dalam diri manusia, yaitu ketamakan, kerakusan, dan kesombongan yang berpotensi masif merusak seluruh tatanan social.

Syirik Dalam Konteks Kemodernan dan Keindonesiaan

Tak dipungkiri, bahwa seiring perkembangan zaman, masalah yang terjadi sangatlah kompleks. Maka kita dituntut untuk peka membaca tanda-tanda zaman dan juga turut andil dalam memberikan solusi akan tantangan zaman yang semakin hari semakin ruwet.

Salah satu masalah yang sangat pelik yang telah meracuni dan merusak sendi-sendi kehidupan di bumi Nusantara adalah Korupsi, khususnya pada penyalahgunaan jabatan dan uang rakyat. Kita bisa melihat, bagaimana korupsi telah menghancurkan segala sektor kehidupan di negara kita, sebagai contoh dalam sektor pendidikan yang merupakan sektor vital kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan kita terpaksa harus berjalan tertatih-tatih karena banyaknya anggaran yang seharusnya digunakan dalam peningkatkan mutu pendidikan telah disulap dan hilang tak jelas kemana. Hal ini juga didukung oleh lemahnya penegakan hukum yang cenderung tebang pilih. Contoh yang paling nyata adalah bagaimana seorang Gayus Tambunan dengan mudahnya meninggalkan penjara untuk berlibur ke Bali bersama keluarganya.

Selain itu, dampak dari korupsi yang telah merajalela adalah semakin meningkatnya kemiskinan sehingga dapat menimbulkan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin yang apabila dibiarkan akan menciptakan sebuah efek buruk yang mana kerusakannya akan melebihi dahsyatnya bom molotov.

Memberantas Syirik Modern

Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa syirik adalah perilaku menyekutukan Tuhan. Dalam konteks kekinian, konsep syirik harus diintepretasi ulang. Konsep syirik yang eksis saat ini adalah pengakuan akan tuhan-tuhan palsu dalam bentuk korupsi khususnya dalam hal penyalahgunaan jabatan dan uang rakyat yang mana telah hidup dan bersemayam dalam diri seseorang dimana efeknya mampu menghancurkan segala sektor kehidupan.

Lantas agama hanya dijadikan tempat berlindung dari boroknya perilaku kita yang cenderung dibungkus dengan kesalehan yang pincang. Dalam hal ini, banyak dari kita hanya mengedepankan kesalehan ritual yang hanya menekankan ibadah ritual semata dan lupa akan kesalehan sosial yang menekankan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan. Bukankah korupsi adalah sebuah kejahatan luar biasa yang pastinya telah memperkosa nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan itu sendiri??? Mengapa kerakusan, ketamakan, dan kesombongan ini harus dibiarkan???

Sebagai analogi, apabila anda adalah seorang pembuat kursi, lantas kursi anda dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, apa yang anda rasakan???pastinya anda akan merasa kesal dan marah pada orang yang telah merusak karya tersebut. Begitu pun dengan Tuhan, apabila seorang hambanya telah dilecehkan nilai-nilai kemanusiaannya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab khususnya para koruptor, maka Tuhan akan murka dan tak akan mengampuni para koruptor tersebut karena kelakuan mereka telah merusak dan menghancurkan segala sektor kehidupan.

Karena itu, sebagai umat beragama kita ditantang untuk menjadikan agama kita   sebagai gerbang pembebasan sosial dalam memerangi korupsi. Paling tidak, turut partisipatif dalam melakukan kontrol dan kritik sosial dalam penegakkan hukum yang berkeadilan dan mampu memberi efek jera kepada para koruptor. Selain itu, perlunya menghidupkan spirit kenabian secara substansial dalam diri setiap individu/umat beragama agar mampu menjadi pionir dalam melakukan transformasi sosial untuk kehidupan yang lebih baik. Bukankah perubahan pada awalnya berawal dari yang kecil???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s