MUI, Fatwa, dan Rebonding

Media baru saja memberitakan bahwa rebonding hukumnya haram menurut salah satu lembaga keagamaan di Indonesia, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sontak respon pro dan kontra menyeruak, pro khususnya dari beberapa kalangan ulama dan kontra direpresentasikan oleh mereka yang menggeluti bisnis di bidang kecantikan karena pastinya akan menurunkan omset penjualan mereka.

Tentu kita menyadari ada banyak kalangan di Indonesia yang sangat ingin menghapuskan keberadaan MUI karena fatwanya yang sering di anggap memancing (trigger) pandangan public sehingga dijadikan acuan oleh “organisasi Islam tertentu” untuk melegalkan kekerasan atas nama agama yang justru notabene melanggar konstitusi negara kita dan lubuk ajaran Islam itu sendiri.

MUI pada awalnya didirikan karena dilatarbelakangi oleh persoalan historis pada waktu itu yang rawan akan perpecahan umat, partai, dan organisasi Islam yang menyebabkan terpecahnya kelompok Islam lewat pelaksanaan demokrasi terpimpin oleh Soekarno dan terjadinya sekularisasi dalam dasar-dasar negara sehingga MUI hadir sebagai lembaga konsultasi untuk memberi pengarahan dan pencerahan kepada bangsa ini agar tidak menjauh dari nilai-nilai Tuhan., walaupun secara resmi MUI baru berdiri pada tanggal 26 Juli 1975, ketika Prof. Dr. H.A. Mukti Ali menjadi Menteri Agama lewat Musyawarah Ulama Tingkat Nasional. MUI dalam memberikan pandangannya kepada masyarakat, umumnya mengeluarkan sebuah fatwa.

Fatwa sesungguhnya merupakan sebuah acuan dasar tentang beberapa hukum dalam Islam yang masih dalam wilayah abu-abu dengan menggunakan perspektif Alquran dan Hadis,. Tetapi sesungguhnya itu tidak bersifat mengikat, hanya bersifat himbauan belaka (nasehat). Ulama umumnya mengeluarkan fatwa karena situasi yang meminta atau sesuatu yang mengharuskan adanya fatwa dengan tujuan penyelamatan jamaah, umat atau bangsa (Roham, 2009: 197-198). Sesungguhnya Islam sangat bijaksana dalam hal ini yang memberikan kebijaksanaan dan kebebasan kepada setiap orang baik untuk menerima atau menolak fatwa ini. Karena perbedaan dalam Islam adalah rahmat selama itu dikelola dengan baik sebagai sarana untuk belajar dan mengembangkan inovasi kita dalam mengembangkan ilmu pengetahuan agar mengetahui rahasia-rahasia kitab suci dan kitab semesta dalam rangka pencarian hakikat kebenaran.

Seperti kita tahu beberapa waktu silam MUI telah mengeluarkan beberapa fatwa seperti fatwa aliran sesat kepada Ahmadiyah, Islam Liberal dll yang sesungguhnya telah memicu beberapa kelompok Islam melegalkan sebuah kekerasan atas nama agama, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai jalan menuju religiusitas tetapi alat untuk melegitimasi kepentingan dan keberadaan mereka atau dengan kata lain agama berfungsi mengesahkan keberadaan dan tindakan-tindakan yang bisa terjadi menyimpang dari substansi ajaran karena citra telah mewakili suatu realitas keagamaan itu sendiri (Abdullah, 2007: 09), padahal dalam lubuk ajaran Islam itu sendiri sangat menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan kasih sayang. Ibarat senjata makan tuan, yang menjadi sasaran balik oleh masyarakat yang mengutuk bentuk kekerasan tersebut adalah MUI itu sendiri karena diduga menjadi dalang dan provokator yang memicu timbulnya sebuah kekerasan atas nama agama.

Menurut hemat saya, yang harus dilakukan MUI adalah jangan segan-segan menegur pimpinan dari organisasi-organisasi yang melakukan kekerasan dengan dalih atas nama agama, karena sesungguhnya dalam konteks keagamaan, pimpinan sebuah organisasi agama tertentu sangat mempunyai kewibawaan untuk didengarkan oleh pengikutnya (top-down approach) bahkan dikultuskan. Selain itu, MUI harus merejuvinasi dan menghidupkan kembali dialog yang sehat dan konstruktif antara pihak-pihak yang melakukan kekerasan dan pihak-pihak yang merasa dirugikan, karena dalam konteks modern seperti ini dialog lebih efektif dalam menyelesaikan suatu masalah ketimbang doktrin yang hanya mendangkalkan rasio kita dalam berpikir, disamping itu dialog juga dapat menciptakan sebuah kemajuan dialektika berpikir guna menghidupkan sebuah peradaban yang sehat dan dinamis untuk mencapai cita-cita Islam yang Rahmatan Lil Alamin ( rahmat bagi semesta alam).

Dalam konteks rebonding, yang ingin saya katakan seraya mengutip sebuah hadis sahih yang menyatakan Allah itu indah, karena itu Dia mencintai keindahan. Jadi sesungguhnya tidak ada masalah dalam rebonding selama itu mempercantik/memperindah rambut dan tampilan kita dan juga selama secara periodik tidak dilakukan secara berlebihan (masih dalam batas kewajaran). Wallahu AlamBissawab.

Bibliography:
Abdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Roham, Abujamin. 2009. Ensiklopedi Lintas Agama. Jakarta: Emerald.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s