Merekonstruksi Makna Valentine

Salah satu karakter manusia adalah homo festivus yang artinya manusia cenderung untuk melaksanakan sebuah festival. Festival itu bentuknya sanga variatif baik itu festival keagamaan, festival budaya, festival kenegaraan, dll. Titik temu (common platform) dari semua festival tersebut adalah adanya aktifitas social yang bersifat massal, warna-warni untuk mengenang  dan mengawetkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat sebagai penguat diri menatap hari esok, selain itu sebuah festival dilaksanakan untuk mengingatkan sebuah peristiwa dan tokoh  agar nilai dan pesan moralnya tetap aktual (Hidayat, 2009: 9-10) dengan kata lain sebuah festival mengandung sebuah symbol sebagai lokus untuk menyatakan sebuah ide dan gagasan untuk menyegarkan kembali nilai-nilai luhur yang kadangkala kita lupakan sejenak.

Ketika manusia larut dalam aktifitas sehari-hari yang melelahkan, tidak bisa dipungkiri nilai-nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi ter-erosi sehingga dengan adanya festival diharapkan dapat menyegarkan dan mengingatkan kembali nilai-nilai yang luhur tersebut.

Pernahkah kita bayangkan, apa jadinya kalau hidup ini tidak ada festival, kita pasti akan jenuh dengan rutinitas hidup kita yang sangat monoton sehingga perlunya diadakan sebuah perayaan/ festival, misalnya aqiqah, acara ulang tahun, acara tahun baru, dll. Selain itu, sebuah festival dapat dijadikan selingan untuk men cooling-down kan diri dari segala kepenatan hari-hari kita.

Akan tetapi, sebuah festival hendaknya dilaksanakan dengan jalan yang indah, proporsional, damai, dan bersahabat tanpa perlu dilakukan secara mubazir dan berlebih-lebihan yang dikhawatirkan makna festival yang sejatinya sebagai sarana untuk hiburan, bersosialisasi (kohesi social) dan merajut kembali tumpukan-tumpukan cinta yang sempat retak untuk hari besok yang lebih cerah akan berakhir dengan kenihilan yang pada ujungnya akan menjadi pemantik menuju kekerasan yang bondo nekadism.

Salah satu festival tahunan yang sering dirayakan tepatnya setiap tanggal 14 Februari oleh seluruh warga dunia pada umumnya, dan warga Indonesia pada khususnya adalah perayaan festival Valentine. Secara historis festival Valentine berawal dari kisah seorang santo Katolik bernama Valentinos yang dihukum mati akibat bertentangan dengan penguasa Romawi pada waktu itu, yaitu  Cladius II pada tanggal 14 Februari 265 M karena pada waktu itu Valentinos secara sembunyi-sembunyi menikahkan beberapa anak-anak muda. Pada waktu itu, anak-anak muda dilarang untuk menikah disebabkan adanya perintah untuk wajib militer (military service) sehingga Valentinos harus mendapat hukuman berupa hukuman gantung. Karena kematiannya dianggap sebagai martyr di tiang gantungan, maka namanya pun menjadi headline news dan melegenda. Akan tetapi sebelum menjadi martyr di tiang gantungan, Valentinos sudah banyak menerima kiriman kembang, surat, dan benda kenang-kengangan lainnya yang menunjukkan rasa simpati, demikianlah awal kisah “Hari Valentine” (Roham, 2008: 720).

Pada hari Valentine, hal yang lazimnya dilakukan adalah saling bertukar kado kepada orang yang dicintai, seperti orang tua, kekasih, sahabat, dll. Pusat keramaian pun seperti taman bermain, mal, supermarket, dll akan dipenuhi dengan riuh gemerlap Valentine mulai dari dekorasi, hamparan bunga-bunga yang indah nan elok ditambah dengan indah dan manisnya aroma coklat yang menggugah hati untuk membelinya agar dijadikan kado terindah dan terspesial dalam rangka merajut benang-benang kusut agar kembali utuh dan dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Saya tidak ingin terjebak dalam ranah perdebatan Teologis. Intinya, Valentine dengan segala symbol yang melekat (inheren) seperti coklat, bunga, dll adalah sebuah hal yang instrumental (sekunder).  Unsur fundamentalnya (primer) adalah bagaimana kita bisa menghidupkan pribadi yang suka memberi (to give) dan bagaimana kita menanamkan dalam diri kita untuk selalu menyebarkan cinta kepada sesama. Kalau begitu muncul sebuah pertanyaan, Apakah anda telah berbagi cinta kepada sesama??? Karena itu, marilah kita merekonstruksi makna Valentine dengan menanggalkan unsur mitologisnya dan menjadikan substansinya, yaitu CINTA dan KASIH SAYANG sebagai landasan hidup untuk berbagi kepada sesama tanpa memandang suku, ras, agama, warna kulit, dll.

Wallahualam Bissawab.

Bibliography:

Hidayat, Komaruddin. (2009). Berdamai Dengan Kematian, Jakarta: Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika)

Roham, Abujamin. (2009). Ensiklopedi Lintas Agama. Jakarta: Emerald.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s