Kita Kaya Tapi Miskin

Judul di atas nampaknya sangat mewakili gambaran tentang republik kita yang semakin hari semakin penuh dengan masalah yang tak kunjung habisnya, khususnya dalam hal pengelolaan asset bangsa. Tulisan ini adalah refleksi kegelisahan yang selalu membuatku gusar akhir-akhir ini. Ini diinspirasi ketika saya bertemu dengan seorang wanita di sebuah seminar International tentang Asia-Afrika di Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM).

Wanita ini berdomisili di Jakarta dan merupakan seorang alumni dari salah satu Universitas terkemuka di Belanda. Wanita tersebut bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang pertambangan nikel berbasis di Jakarta, dimana hasil yang diperoleh dari perusahaan tersebut berasal dari sebuah tambang nikel di Halmahera, Maluku. Wanita tersebut kebetulan hadir pada waktu itu sebagai tamu undangan -mengingat perusahaan dimana dia bekerja- menjadi salah satu sponsor dalam seminar tersebut.

Singkat kata, pada waktu itu dia meminta pendapat kepada saya tentang bagaimana strategi pemberdayaan suku asli di sana agar taraf hidup mereka mampu ditingkatkan dan juga bagaimana cara agar mampu melestarikan budaya lokalnya. Dengan berbekal ilmu yang sedikit saya ketahui, saya lalu berusaha memberikan beberapa input dan pendekatan kebudayaan dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut, mengingat saya memiliki sedikit pengetahuan dan pengalaman tentang budaya, bidang studi yang selama ini saya geluti.

Akan tetapi, setelah wanita itu pergi, saya lalu tersadar dan menyesali apa yang telah saya lakukan. Mengapa saya dengan jinaknya memberikan beberapa input dan pendekatan yang menurut saya justru tambah memberi andil akan eksistensi perusahaan asing tersebut. Saya teringat, bahwa berapa banyak perusahaan tambang di Negara ini yang telah dijarah oleh asing dan secara sistematis telah membuat kita tidak berdaya. Meskipun pihak asing tersebut sering berkelit dengan dalih bahwa mereka telah mengeruk tambang kita sebagai salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian rakyat kita, khususnya di daerah dimana perusahaan tambang tersebut berada dan juga tentunya turut berpartispasi dalam melestarikan dan memberdayakan aset lokal.

Terkadang saya secara pragmatis setuju bahwa disatu sisi liberalisasi asset kita dirasa perlu, mengingat masyarakat kita yang masih kurang mampu mencintai dan memelihara asset yang dimiliki. Contoh kecilnya terkadang kita masih tetap keras kepala untuk merokok di ruang publik yang notabene dengan jelas terpampang tulisan “dilarang merokok,” bahkan lebih ironis lagi, ketika kita seenaknya membuang puntung rokok. Kalau hal kecil saja tak bisa dikelola dengan baik, bagaimana dengan aset besar seperti kekayaan alam kita?

Akan tetapi disatu sisi, sampai kapan kita mau menyuburkan liberalisasi seperti ini? mengapa asset-aset kita mesti dikelola oleh asing, bukankah kita punya banyak anak bangsa yang cerdas yang belum tentu kalah oleh orang asing? Tak dipungkiri, berapa banyak aset kita yang telah dijarah oleh asing yang justru sebenarnya malah memperkaya diri dan negara mereka. Lantas yang kita dapatkan hanya secuil bahkan negara kita semakin hari semakin susah. Pada akhirnya, hal ini akan menciptakan konflik yang tak berkesudahan dan berujung pada disintegrasi bangsa.

Menurut saya, keinginan untuk memisahkan diri dari Bumi Pertiwi yang pernah dilakukan oleh masyarakat Aceh dan yang sedang dilakukan oleh masyarakat Papua adalah sebuah bentuk simbol kekecewaan sekaligus protes mereka terhadap pemerintah yang dianggap lemah dalam menyikapi hal ini. Kekayaan mereka dijarah dan di sisi lain tidak mendatangkan profit yang mampu dirasakan secara menyeluruh oleh masyarakat, khususnya di kedua propinsi ini. Pemerintah kita hanya sibuk berkutat mengedepankan pencitraan dan pencitraan. Tetapi sungguh terlalu naïf, kalau kita hanya sering menyalahkan pemerintah tanpa berkaca dan bertanya pada diri sendiri bahwa sumbangsih apa yang telah kita berikan pada bangsa dan negara ini.

Saya tahu hal ini sangat dilematis tentunya. Banyak saudara-saudari kita yang bekerja di perusahaan tambang yang dikelola oleh asing tersebut, tentunya mereka sadar akan kekayaan kita yang telah dicuri secara halus bahkan secara terang-terangan oleh mereka, tetapi dengan gaji yang lumayan menggiurkan mereka akhirnya mengabaikan dan terkesan apatis dan tak ambil pusing. Hal ini sungguh dapat dimengerti, mengingat mereka juga punya keluarga yang perlu mereka hidupi dan nafkahi.

Saya kadang bermimpi terlalu tinggi, seandainya saja pemerintah kita  mampu seberani dan setegas Bung Karno untuk menasionalisasi aset-aset tambang kita, saya yakin negara ini akan menjadi negara yang adil dan makmur, mengingat negara ini adalah negara yang kaya dalam segala hal.

Teringat akan perjalanan saya dari sebuah kota kecil bernama Macksville menuju Sydney, Australia dengan bus, saya melihat ke kiri-kanan badan jalan dan saya menyimpulkan bahwa Australia hanya sebuah negara yang hanya dikelilingi oleh semak-semak (bush) yang sebenarnya tidak memiliki nilai jual, sedangkan Indonesia adalah sebuah Negara yang sangat kaya berlimpah sumber daya alamnya.

Coba perhatikan, ketika kita naik bus menuju kampung (desa), dengan mudah kita temukan tanaman dan tumbuh-tumbuhan seperti padi, mangga, kelapa, jagung, dll di kiri-kanan jalan yang notabene memiliki nilai jual yang tinggi. Begitupun juga dengan kekayaan alam kita dalam bentuk tambang -tidak usah ditanya lagi- terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai macam kekayaan meliputi gas, minyak bumi, emas, perak , nikel dll. Pertanyaannya mengapa Australia bisa lebih maju dari Indonesia?

Salah satu jawabannya adalah karena kurangnya kesadaran dari pemimpin kita untuk membuat kebijakan yang adil dan mampu dirasakan oleh rakyat secara menyeluruh, khususnya dalam hal pemerataan pendidikan, pemberantasan kemiskinan dan korupsi. Di sisi lain juga disebabkan karena kurangnya kesadaran kita untuk melakukan yang terbaik sesuai kapasitas dan kemampuan kita.

Demikianlah, realitas di negeri ini, bukannya ingin munafik dan sok idealis, tetapi saya hanya ingin agar kita semua mengetuk pintu hati kecil kita untuk peduli kepada bangsa dan negara ini, mari melakukan sesuatu dari apa yang kita mampu lakukan dan kita miliki untuk membantu saudara-saudari kita, mengingat masih banyak dari mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi kita yang barangkali diberi rezeki yang sedikit berlebih, mari kita alokasikan sedikita harta kita untuk mendanai saudara-saudari kita yang ingin bersekolah, tetapi tidak mampu secara financial.

Buat pemerintah, tolonglah peduli sama rakyatmu, tegakkan hukum setegak-tegaknya, penuhi kebutuhan mereka, khususnya sandang, pangan, dan papan. Jangan lupa, berilah mereka pendidikan yang layak sehingga kelak bisa mengelola kekayaan bangsa dan negara ini dengan baik untuk kemaslahatan kita bersama, bukannya kemasalahatan bangsa lain. Pemerintah juga dituntut untuk bertindak arif dan bijaksana dalam mengelola kekayaan bangsa ini. Jangan sampai kemarahan rakyat yang disebabkan oleh kekecewaan yang mereka hadapi secara bertubi-tubi dapat menjadi bencana bagi kita semua, bukankah doa orang teraniaya akan dikabulkan Tuhan?

Kaliurang, Yogyakarta, 1 November 2010



 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s