Kemana Arah Agama dan Negara

Hidup itu indah dalam keberagaman, begitu kata sebuah pepatah. Di negeri yang sangat kaya ini tersimpan berbagai macam potensi, apabila potensi itu dapat dikelola dengan baik, maka baik pula negara ini. Indonesia adalah sebuah negara yang kaya, negara yang memiliki kekayaan yang nyata meliputi suku, agama, budaya, dan lain-lain.

Sebagai contoh beberapa agama yang eksis di negeri ini meliputi Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu yang merupakan asset besar bangsa. Tetapi melihat realitas lebih dekat, keragaman ini belum sepenuhnya menciptakan sebuah potensi luar biasa dalam rangka menciptakan sebuah negara yang kuat dan demokratis dimana menjunjung tinggi persaudaraan dan kesetaraan dalam perbedaan. Sebagai contoh, bagaimana wajah Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, terkadang masih menunjukkan wajahnya yang beringas dan kejam.

Kita masih ingat beberapa bulan silam di tahun 2010, beberapa ormas Islam melakukan penganiayaan kepada pendeta Gereja Batak Protestan di Bekasi (12/09/2010) ditambah pengrusakan Mesjid milik kaum Ahmadiyah di desa Cicasalada,  Kabupaten Bogor (01/10/2010). Lantas muncul pertanyaan, Mengapa kekerasan menggunakan label agama masih kerap terjadi di negara kita???Bukankah agama mengajarkan perdamaian???

Tak dipungkiri, dalam tataran personal, setiap orang memiliki kebebasan untuk mengklaim keyakinan agamanya adalah yang paling benar, tetapi dalam tataran pergaulan sosial, kebenaran itu harus ditekan menuju kebenaran yang relatif sehingga tidak menyinggung perasaan saudara yang berbeda dengan kita.  Akan tetapi sangat disayangkan, beberapa perilaku kekerasan yang mengemuka saat ini yang dianggap sebagai perjuangan dalam membela agama, justru malah menyimpang dari nilai agama itu sendiri. Hal ini juga dipertegas dengan absennya pihak keamanan –dalam hal ini kepolisian- yang cenderung enggan untuk mengkriminalkan para pelaku kekerasan tersebut.

Entah mungkin ada kekhawatiran dari pihak kepolisian yang takut dipolitisasi atau ada ketakutan bahwa memerangi pelaku kejahatan yang menggunakan symbol agama adalah musuh agama itu sendiri. Secara psikologis, mudah dijelaskan mengingat kebanyakan polisi di Indonesia beragama Islam, sehingga mereka khawatir dicap anti Islam.

Dalam hal ini dibutuhkan  peran pemimpin –khususnya presiden yang menduduki tampuk tertinggi dalam struktur kenegaraan-  agar tegas dan berani untuk melindungi warganya, yaitu menindak para pelaku kekerasan tersebut tanpa takut di cap anti Islam. Mengingat Indonesia masih kuat budaya peternalistiknya sehingga ketegasan dan keberanian presiden dalam mengambil tindakan dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat di level grass-root agar mampu menjadi lokomotif perubahan (agent of change).

Mereposisi  Peran Mayoritas

Ada kecenderungan, beberapa ormas-ormas keagamaan yang mengatasnamakan Islam dengan cara yang relatif beringas dan kejam adalah orang-orang yang sesungguhnya malah merusak citra Islam itu sendiri. Mereka mengatas namakan berjuang di jalan Tuhan untuk membela Tuhan. Meminjam apa yang dikatakan oleh Alm. Gusdur -bahwa Tuhan tidak perlu dibela- karena menurut hemat saya Tuhan, entah mau dibela atau tidak, sama sekali tidak mengurangi kemahakuasaannya.

Islam di Indonesia dikenal sangat santun dan toleran, sehingga beberapa cendekiawan kelas wahid dunia sekelas Prof. Mahmood Mohammad Ayoub, Robert Hefner, Fazlur Rahman, dll sangat memuji model Islam yang berhasil dibangun di Indonesia. Meskipun beberapa gerakan-gerakan Islam yang cenderung radikal mengemuka akhir-akhir ini, yang sering dijadikan sorotan di media massa karena serangkaian tindakannya yang menyebabkan keresahan dalam masyarakat dan juga perilaku mereka yang banyak ‘menyimpang’ dari substansi ajaran agama itu sendiri. Akan tetapi, menjadi tugas utama kita bersama untuk memperjuangkan kembali model Islam Indonesia yang santun dan toleran yang telah dibajak oleh mereka yang mengatas namakan Islam dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai Islam itu sendiri.

Menggunakan kaidah bahasa, bahwa terkadang ormas-ormas ini mengklaim dirinya sebagai representasi dari mainstream Islam dengan mengutip beberapa teks-teks agama, tetapi sebenarnya di balik itu, mereka justru ingin memproduksi dunia wacana sesuai dengan kepentingan dan ideologi yang mereka anut.

Penulis yakin dan percaya bahwa banyak dari kita, tentu akan menolak representasi dari Islam yang cenderung digambarkan kejam dan beringas tersebut, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai dan toleran. Penampakan wajah Islam yang kejam dan beringas oleh ormas-ormas tersebut harus dipahami sebagai politisasi agama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Secara historis sangat kuat terekam oleh sejarah tentang bagaimana nenek moyang kita terdahulu sangat mencintai kedamaian dan toleransi, seperti kerajaan Majapahit yang tak pernah sedikit pun memerangi Islam sebagaimana yang digambarkan oleh R. Soekmono bahwa:

“Suatu ketika pada tahun 1511, Raja Pase bernama Zain-Al Abidin melarikan diri  meninggalkan takhtanya, tempat berlindungnya adalah Majapahit, dimana rajanya  masih   termasuk saudaranya. Selain itu,menurut cerita bahwa terdapat juga seorang  putri yang beragama Islam yang dinamakan putri Cempa dan putri Cina. Putri ini adalah isteri atau bahkan permaisurinya salah seorang raja Majapahit” (R. Soekmono, 1981).

Islam sebagai mayoritas diajak untuk mawas diri untuk  bagaimana melindungi minoritas. Karena ada anggapan bahwa mayoritas identik dengan “dominasi dan hegemoni” (Zaenuddin, 2003), sehingga mayoritas selalu dianggap paling benar. Hal ini harus ditinjau kembali mengingat mayoritas tidak sepenuhnya memuat kebenaran yang nyata. Sebagai contoh, apabila terjadi sebuah perundingan oleh lima orang pemuda akan hal -mencuri ayam pak lurah- Mereka lalu melakukan voting. Ada empat orang yang setuju untuk mencuri, sedangkan sisanya menolak. Dengan menggunakan analogi sederhana ini, bisa disimpulkan bahwa mayoritas tidak selalu identik dengan kebenaran.

Secara historis, Figur Nabi Muhammad adalah figur yang sangat mencintai minoritas, sebagaimana dalam komunitas Madinah yang beliau pimpin, beliau tak pernah sedikit pun menindas minoritas -meskipun islam sebagai agama mayoritas pada waktu itu- Nabi bahkan melibatkan kaum-kaum Yahudi dan Kristen dalam bermusyawarah untuk mencapai kebaikan bersama. Dalam hal ini dialog sangat beliau tekankan.

Karena itu, mayoritas sejatinya harus melindungi minoritas, mengingat kita semua ini hidup dalam satu rumah, yaitu “Indonesia”. Jadi apabila ditemukan salah satu dari mereka yang “menyimpang” dari norma yang berlaku secara umum, mereka tidak lantas harus dibumi hanguskan, tetapi mereka justru harus dibimbing dan diajak berdialog.

Ada kecenderungan kita lebih mengedepankan konfrontasi ketimbang dialog itu sendiri. Dialog hendaknya didasari niat yang baik dan tulus untuk menjalin sebuah persaudaraan yang lebih akrab, jujur, dan terbuka. Ketika persaudaraan tersebut dapat terajut dengan baik, maka baik pula dampak yang akan dihasilkan. Seperti yang ditegaskan oleh Paulo Freire (2006) bahwa “dialog tidak mungkin bisa terjadi tanpa dilandasi sikap kerendahan hati”.

Karena itu, dialog harus hendaknya mengedepankan “prakondisi esensial,” meminjam istilah Montgomery Watt seperti yang disinggung dalam Azyumardi Azra (2002) bahwa prakondisi esensial bagi dialog adalah bahwa setiap peserta dialog hendaknya menempatkan diri dalam posisi sederajat dengan tetap setia kepada agamanya tanpa harus meninggalkannya, tujuannya adalah bahwa setiap pihak haruslah memperoleh pengetahun yang lebih baik tentang agama lain.

Meskipun ada beberapa pihak yang pesimis tentang arti pentingnya dialog, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa suatu pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat agama justru akan ditemukan ketika adanya sifat saling terbuka untuk saling memahami perbedaan. Karena sejatinya, agama apapun tentu mengajarkan arti pentingnya menghargai perbedaan secara positif dalam rangka memuliakan manusia.

Tugas kita saat ini adalah mengawal demokrasi di negara kita, dengan mengedepankan spirit penghargaan kepada pluralitas. Pluralitas jangan dijadikan musuh, karena pluralitas apabila dikelola dengan baik dapat menciptakan sebuah konfigurasi kekuatan yang tangguh. Ingatkah kita bagaimana perjuangan pejuang-pejuang kita terdahulu meskipun mereka berbeda, tetapi mereka tetap mengedepankan persatuan dalam merebut kemerdekaan.

Karena kita telah menikmati alam “kemerdekaan”, mari kita isi kemerdekaan ini untuk melawan musuh kita bersama yaitu kemiskinan, kebodohan, dan korupsi dengan segenap potensi  pengetahuan dan kemampuan yang kita miliki, daripada harus saling adu otot yang tak jelas manfaatnya. Bukan begitu?

Bibliography:

Azra, Azyumardi. (2002). Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antarumat. Jakarta: Kompas.

Freire, Paulo. (2006). Pedagogy of the Oppressed: 30th Anniversary Edition. New York: Continuum.

Soekmono, R. (1981). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Zaenuddin, Muhammad. (2003). Menggoyang Pikiran: Menuju Alam Makna. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s