Kebudayaan, Politik Identitas, dan Potensinya

Pada awalnya, manusia tidak mengenal konsep kepemilikan. Akan tetapi seiring perkembangan pemikiran manusia, mereka lalu menciptakan system kepemilikan yang diatur dalam system birokrasi yang relative sederhana sesuai hasil kesepakatan mereka pada waktu itu.

Laki-laki dan perempuan lalu melakukan ikatan pernikahan dan dari ikatan tersebut, muncullah keturunan-keturunan mereka yang berlangsung secara kontinyu dalam rangka memperbanyak jumlah manusia pada waktu itu agar mampu bekerja sama dalam melawan ganasnya alam.

Jauh setelah itu, manusia mulai membentuk identitas dalam rangka memperkuat posisi dan kekuasaan mereka dalam wujud ras, etnik, suku, dll.

Politik Identitas

Manusia pada dasarnya tidak pernah lepas dari identitasnya karena dengan itulah mereka bisa melakukan proses kohesi social. Akan tetapi, identitas itu selalu mengalami proses fluktuatif atau kata lain ada proses naik-turun di dalamnnya. Sebagai contoh ketika kita berada di Belanda, kita cenderung melakukan proses differensiasi dengan mencoba menarik garis yang tegas antara identitas kita dengan yang lain. Ada kecenderungan kita lebih memilih bergaul sesama orang yang berasal dari negara kita ketimbang seseorang yang berasal dari Belanda atau negara lain.

Begitupun ketika seseorang yang katakanlah berasal dari Makassar berada di Yogyakarta,Medan, Bandung, atau kota-kota lainnya, mereka akan melakukan proses differensiasi dan juga cenderung menganggap kota mereka lebih baik daripada kota yang lain. Begitu pula, ketika seorang suku Bugis berada di negeri asalnya yaitu di Kota Makassar, mereka cenderung melakukan differensiasi dengan suku Makassar, Mandar, dan Toraja dan kemudian menganggap sukunya adalah yang terbaik.Mengapa hal itu terjadi???

Mungkin salah satu jawabannya adalah bahwa manusia lahir dalam ranah kebudayaan yang menekankan nilai-nilai dimana mereka dilahirkan. Dalam bahasa Inggris, tempat kita dilahirkan dan dibesarkan sering disebut mother land, dikatakan mother land karena menyerupai sifat ibu (mother) yang selalu ingin memberikan segalanya kepada anaknya. Begitupun dengan mother land yang selalu memberikan segala kenyamanan kepada manusia-manusia yang besar dan hidup di tempat tersebut seperti kedamaian, kesejukan, kebebasan, kemerdekaan, dan segala fasilitas mencakup air, tanah, udara, dll. Sebagai contoh, dalam budaya Bugis-Makassar, sejak kecil kita diajarkan agar selalu berkata jujur dan apa adanya dalam mengatakan sesuatu meskipun itu pedih, dimana tercakup dalam salah satu filosofi hidup orang Bugis-Makassar dimana menjunjung tinggi tiga ujung, yaitu ujung lidah dalam menyampaikan kejujuran, ujung badik (senjata khas Bugis-Makassar) menegakkan kebenaran, dan ujung kelamin dalam menyebarkan benih dimana-dimana, sehingga tak bisa dipungkiri Orang Bugis-Makassar dengan mudah kita temukan dari Sabang-Merauke bahkan di berbagai penjuru dunia seperti di Afrika Selatan, Singapura, Malaysia, dll.

Kembali kita focus dalam hal menyampaikan kejujuran, orang Bugis-Makassar sangat menjunjung tinggi hal ini, mengingat kejujuran merupakan ajaran Islam, agama yang banyak dianut oleh suku ini. Orang Bugis-Makassar dalam menyampaikan kejujurannya dituntut untuk menurut sertakan keberanian dalam menyampaikannya.

Akan tetapi, dalam konteks suku Jawa, nilai kejujuran yang dijunjung tinggi oleh orang Bugis-Makassar yang disertai keberanian cenderung diabaikan. Mereka menganggap bahwa kesopan-santunan adalah hal yang harus diutamakan.  Kejujuran adalah masalah nomor dua karena dikhawatirkan ketika mereka mengatakan kejujuran, hal itu akan menyinggung perasaan orang lain dan tentunya dianggap tidak sopan.

Demikianlah, usaha manusia dalam segala kompleksitasnya melestarikan nilai-nilai yang mereka dapatkan dari mother land nya, yang diserap melalui media keluarga, pendidikan formal dan lingkungannya. Juga ada kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjunjung tinggi primordialisme mereka yang tercakup dalam hal etnisitas, kesukuan, dll.

Mencari Titik Temu Budaya

Harus diakui bahwa setiap budaya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung bagaimana manusia memaknainya dalam realitas sosial. Pendidikan sebagai akar majunya sebuah bangsa, hendaknya konsen akan kearifan-kearifan lokal dalam masing-masing budaya yang dimiliki oleh Indonesia yang mana merupakan asset dan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Pemerintah juga diharapkan agar mampu menghidupkan dan memperkuat pentingnya pendidikan kewarganegaraan dan muatan local dalam kurikulum pendidikan kita, sehingga mampu meningkatkan pengetahuan anak bangsa akan kekayaan budaya yang mereka miliki. Sebagai contoh, perlunya diadakan pertukaran tenaga pengajar yang memiliki kemampuan yang mumpuni dalam hal kebudayaan. Seperti tenaga pengajar dari Makassar ditukar ke Yogyakarta dan sebaliknya dalam beberapa waktu tertentu. Tenaga pengajar dari Makassar barangkali bisa mengajarkan kepada pelajar-pelajar di Yogyakarta akan implementasi nilai siri’ (malu) dalam rangka pemberantasan korupsi, begitupun dengan tenaga pengajar dari Yogyakarta dapat mengajarkan kepada pelajar-pelajar di Makassar tentang bagaimana menghadapi bencana alam dari sudut pandang kearifan local yang mereka miliki. Hal ini juga dapat diimplementasikan oleh propinsi lainnya di Indonesia. Dalam hal ini sharing pengalaman sangat ditekankan dalam rangka menjawab tantangan–tantangan global.

Ada baiknya mulai saat ini sebagai anak bangsa kita hendaknya memiliki kepekaan akan asset kekayaan local kita yang tersebar dalam kearifan dan filosofi hidup yang tak terhitung berapa banyak jumlahnya. Indonesia memiliki potensi menjadi kota dunia apabila kita mampu memelihara dan mengembangkan aset-aset tersebut yang sesungguhnya memiliki nilai jual yang sangat luar biasa. Bukankah banyak warga Australia, Amerika dan Eropa sering berkunjung ke Indonesia dalam rangka mempelajari budaya kita karena mereka sendiri miskin akan budaya???Karena itu, banggalah menjadi orang Indonesia. Tidak perlu merasa minder dan inferior dengan bangsa lain. Merasa minder dan inferior adalah ciri-ciri bangsa yang tidak percaya diri.

Yogyakarta, 3 November 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s