Indahnya Kata Maaf

Mengapa kita sulit untuk minta maaf??? itulah pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita padahal sebagai umat beragama, kita diajak merenungi hakikat kata “maaf” tersebut. Bahkan dalam ajaran Islam dengan jelas dikatakan bahwa seseorang yang meminta maaf terlebih dahulu akan diberi pahala satu tingkat lebih tinggi, tetapi kenapa kita tetap enggan melakukannya??

Ada sebuah wisdom yang mengatakan “minta maaflah karena itu sehat dan menyehatkan”, saya sangat sependapat dengan wisdom tersebut. Coba bayangkan ketika kita meminta maaf, betapa banyaknya energi-energi negatif yang kita buang yang pada akhirnya akan meringankan beban kita, sehingga kita bisa lebih optimis dan positif dalam menjalani dan memaknai hidup. Begitu pun dengan seseorang yang ditempati minta maaf hendaknya dengan ikhlas menerima kata maaf tersebut. Sesungguhnya menanam amarah dan emosi dalam diri kita tidak ada gunanya. Ada sentilan yang cukup familiar ditelinga kita ” jangan suka marah, nanti cepat tua loh”. Sentilan tersebut kedengaran biasa-biasa saja tetapi maknanya sangat dalam yang pada hakikatnya mengajak kita untuk senantiasa tidak mengedepankan emosi yang ujung-ujungnya akan mencelakakan diri kita juga.

Lantas muncul lagi pertanyaan sebelumnya, mengapa seseorang enggan untuk meminta maaf???Jawabannya adalah bahwa seseorang merasa gengsi dan kehormatannya merasa terinjak-injak ketika harus meminta maaf. Mereka bahkan dengan ikhlasnya mau menanggung beban tersebut dengan dalih “demi reputasi”. Saya khawatir, apabila hal ini terus dipelihara, suatu saat akan tumbuh subur dan nanti durinya akan menusuk dan melukai banyak orang.

Saya punya pengalaman menyaksikan seorang pasangan suami-istri yang bertengkar dengan hebatnya, hanya karena mementingkan ego masing-masing. Sang suami bahkan mengancam ingin membakar rumah dan seluruh aset-aset yang telah mereka peroleh selama ini hanya karena dikendalikan oleh emosi sesaat. Apa jadinya apabila hal tersebut benar-benar terjadi???tak bisa dibayangkan penyesalan yang berkepanjangan akan terjadi nantinya, khususnya sang suami akan merasa sangat sedih dan penuh penyesalan ketika melihat orang lain yang sedang asyik menikmati hasil jerih payah mereka dengan mengendarai mobil berkeliling kota bersama keluarga atau paling tidak ketika melihat orang lain menikmati waktu senggangnya di beranda rumah ditemani secangkir kopi dan surat kabar, sedangkan suami tersebut hanya sibuk berkubangan dalam lumpur penyesalan dan penderitaan. Akan tetapi, untunglah sang suami cepat menyadari dirinya dan dengan segala kerendahan hatinya akhirnya dia meminta maaf kepada sang istri dan sang istri pun dengan ikhlas dan lapang dada memaafkan suaminya, sehingga bisa menyuburkan kembali mahkota rumah tangga mereka yang sempat layu menjadi tumbuh kembali.

Pengalaman saya yang lain, pernah suatu ketika, saya mengendarai sepeda motor dan tak sengaja menabrak motor orang lain dari arah belakang. Saya malah menjadi bingung harus berbuat apa lagi. Dengan memberanikan diri saya lalu mengucapkan kata “maaf saya yang salah”  dan saya juga telah siap dan ikhlas menanggung segala resiko dari apa yang telah saya lakukan. Yang menakjubkan, sang pemilik motor tersebut hanya terdiam dan tak mampu berkata apa-apa dan kemudian dia bergegas pergi. Semenjak saat itu, saya banyak mendapatkan pelajaran dari the power of “maaf.”

Secara filosofis dapat dijelaskan mengapa seseorang yang mendengarkan kata “maaf” yang lahir dari hati yang ikhlas akan mudah diterima? karena pada hakikatnya, manusia lahir dalam keadaan fitrah (suci), sehingga ketika mendengarkan kata “maaf” yang secara substansial merupakan untaian kata yang suci, maka manusia akan ikhlas menerimanya, karena sejatinya manusia mencintai kesucian.

Lantas muncul lagi pertanyaan untuk kita, apakah emosi dan amarah yang kita tanam selama ini mendatangkan keuntungan bagi kita atau malah menambah beban kita???cukuplah hanya kita yang tahu jawabannya.

Kita hendaknya senatiasa belajar dari figur Nabi Muhammad, beliau dengan segala kebersahajaanya dan kerendahan hatinya dapat mengendalikan segala emosi dan amarah yang datang menyelimutinya. Beliau bahkan dengan rendah hati dan ikhlas memaafkan orang-orang yang mau mencelakainya. Apa jadinya sendainya Nabi Muhammad merupakan sosok yang beringas, kejam, dan mengedepankan emosi, pastinya beliau tidak akan menyejarah dan tidak akan memiliki kesan yang positif bagi manusia hingga saat ini, sehingga tidak mengherankan seorang tokoh perdamaian dunia dari India, Mahatma Gandhi pernah mengatakan “Saya lebih yakin bahwa bukanlah pedang yang memberikan kebesaran Islam pada masanya, tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersamaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad, serta pengabdian luar biasa kepada para sahabat dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang) menyingkirkan segala halangan.”

Menjelang datangnya hari yang fitri ini, marilah kita melepas segala pakaian kepalsuan dan keangkuhan yang melekat dalam diri kita dan marilah kita mencucinya dengan deterjen hati yang dapat membersihkan noda-noda tersebut sehingga kelak kita mampu menjadi manusia yang fitrah (suci).Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s