Imlek dan Pluralitas

Akhir-akhir ini, kota-kota besar  di seluruh Indonesia diwarnai oleh gegap gempita kemegahan dekorasi yang indah dan mempesona dimana dekorasi warna merah mendominasi sudut-sudut kota baik yang terpasang di sudut-sudut klenteng, rumah warga etnis Tionghoa atau bahkan  melimpah ruahnya hiasan-hiasan yang bertuliskan huruf cina yang bergelantungan ditengah jalan mewarnai betapa semaraknya perayaan Imlek tahun ini.

Tak lupa kehadiran wanginya aroma dupa yang seakan menggetarkan hati manusia yang mencium semerbak wanginya yang menciptakan jiwa “ekstase” karena dupa itu sendiri dibalik simbolnya mewakili lokus atau bahasa komunikasi ritual yang tetap dipertahankan, khususnya oleh orang-orang Cina ditambah kehadiran barongsai sebagai pelengkap semaraknya acara ini yang merupakan hiburan tahunan yang dinanti-nantikan.

Saya teringat beberapa tahun silam di masa rezim orde baru dimana warga etnis Tionghoa tidak memiliki kebebasan untuk melaksanakan perayaan Imlek. Kebebasan mereka ditekan di bawah titik nol dan cenderung diperlakukan sebagai warga kelas dua di bawah pribumi. Bahkan ada banyak peristiwa pengganyangan terhadap warga etnis Tionghoa yang sempat disaksikan sendiri oleh penulis yang dampaknya meninggalkan trauma psikologis terhadap mereka.

Warga Tionghoa saat ini pada umumnya eksis di bidang perdagangan, mengingat pada zaman dahulu mereka tidak memiliki banyak akses untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil, anggota TNI, dokter dll. Toh, kalau mereka bekerja di sector tersebut, karir mereka dibatasi dan tentunya mereka tidak berhak untuk menjadi pimpinan di instansi mereka bekerja meskipun tidak bisa kita sangkal banyak warga Tionghoa memiliki kemampuan manajemen yang baik ditambah jiwa kerja keras yang mereka pegang teguh tetapi mengapa mereka harus mengalami diskriminasi, Bukankah mereka telah memberi banyak kontribusi kepada Indonesia???

Karena Sadar akan diskriminasi yang mereka alami, akhirnya mereka menerjunkan diri untuk eksis di bidang perdagangan dan akhirnya mereka terbilang sukses di bidang tersebut dan berhasil menguasai pasar dagang dalam negeri maupun luar negeri.

Sampai saat ini masih banyak diantara kita masih belum mengerti mengapa mereka harus mendapatkan perlakuan diskriminatif di negara kita yang notabene tempat mereka dilahirkan dan mengenyam ilmu, entahlah. Padahal secara historis warga etnis Tionghoa banyak memberikan sumbangsih kepada negara kita,  katakanlah Laksamana Cheng Ho yang merupakan salah satu pioneer penyebar Islam di Indonesia. Selain itu, pada zaman penjajahan ada banyak warga Tionghoa yang memiliki hubungan yang romantis dengan warga pribumi bahkan ada beberapa dari mereka yang saling bekerjasama dalam bidang perdagangan sehingga menciptakan kecemburuan (jealousy) oleh serikat dagang Belanda (VOC). Karena itu, VOC melakukan politik adu domba (political of division) agar pribumi membenci warga Tionghoa dan inilah barangkali awal mulanya terjadinya kebencian kepada warga Tionghoa yang berdampak adanya perlakuan yang diskriminatif terhadap mereka. Karena itu, perlunya kembali kita kritis untuk mengkaji dan mencari kebenaran sejarah akan sumbangsih warga Tionghoa terhadap bangsa dan negara ini.

A. Gusdur dan Imlek

Setiap perayaan Imlek, yang selalu teringat dalam benak saya adalah seorang figur kharismatik pejuang hak asasi manusia yang baru saja meninggalkan kita semua, yaitu sosok Almarhum Gusdur. Beliau sangat tegar dan konsisten untuk membela kaum Tionghoa agar diberi kebebasan untuk merayakan Imlek.

Ketika menjabat sebagai presiden, akhirnya Gusdur menetapkan dalam konstitusi kita bahwa warga Tionghoa berhak untuk merayakan Imlek karena Gusdur sangat sadar akan pluralitas bangsa ini yang harus dijunjung tinggi dan diperjuangkan. Bahkan selangkah lebih maju, Gusdur mengangkat Kwik Kian Gie sebagai Menteri Koordinator  Ekonomi, Keuangan  dan Industri (Menko Ekuin) dalam cabinet yang dipimpinnya pada waktu itu yang menciptakan sebuah kombinasi warna-warni pelangi dalam kabinetnya.

Mengapa seorang Gusdur sangat kekeh untuk memperjuangkan kesetaraan dan hak asasi manusia, tentunya dilatar belakangi oleh beberapa factor salah satunya adalah adanya under estimate dari organisasi-organisasi muslim berbasis kota kepada organisasi yang dia pimpin pada waktu itu yaitu,  Nadhlatul Ulama (NU) yang cenderung dianggap kaum sarungan , terbelakang, dan tradisional. Dibalik tangan dingin Gusdur, NU berhasil menunjukkan keberhasilannya sebagai salah satu garda Islam terdepan dan terbesar di dunia untuk memperjuangkan nilai-nilai universal Islam yaitu keadilan, kasih sayang, dan progressif.

Meskipun sosok Gusdur telah kembali ke pangkuan Ilahi, tetapi buah pemikirannya masih tetap tumbuh subur di Indonesia. Ada banyak sosok yang mewarisi pemikiran beliau yang sangat universal dan menghargai pluralitas seperti Yenny Wahid (putri Gusdur), Ulil Abshar Abdalla, dll. Bahkan pemikiran Gusdur telah berpenetrasi secara luas merambah pemikiran intelektual-intelektual muda Indonesia yang sudah lelah melihat dikriminasi dan ketidakadilan di bumi pertiwi yang cenderung mengancam pluralitas kita.

Mengutip Komaruddin Hidayat bahwa keragaman itu akan terasa indah kalau saja kita bisa menikmati dan merayakan dengan disertai sikap saling menghargai, saling belajar, semuanya memiliki ketusan  dan kesungguhan untuk selalu menegakkan kebaikan, keadilan, dan kasih sayang.

Harusnya manusia-manusia Indonesia sadar akan itu, tidak hanya di bibir, tapi harus dalam tindakan nyata.

Met hari raya Imlek bagi saudara-saudara ku yang merayakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s