Apa perbedaan antara si dermawan dan si kaya???

Suatu hari dalam perjalanan pulang dari Bank, saya melewati sebuah jalan alternatif untuk menghindari kemacetan. Jalan alternatif tersebut ukurannya cukup lebar, sehingga mobil seukuran truk bahkan kontainer pun dapat melewatinya. Kita pastinya tahu bahwa mobil truk dan kontainer terkadang memuat barang/muatan yang melebihi kapasitas (over load), sehingga menyebabkan beberapa bagian jalan menjadi retak bahkan berlubang, sehingga ketika hujan datang, jalan tersebut sering digenangi oleh air.

Melihat keadaan tersebut, ada seorang lelaki paruh baya yang memiliki inisiatif untuk mengambil timbunan yang terdiri dari material tanah dan batu-batuan hasil dari bongkaran rumah. Lelaki tersebut menimbun jalan tersebut agar pengendara kendaraan bermotor yang melintas dapat merasa nyaman dan aman.

Lelaki tersebut kelihatannya adalah seseorang yang hidup pas-pasan, sehingga terkadang setelah menimbun jalan berlubang tersebut, dia berdiri di tengah jalan sambil memegang sebuah kaleng bekas dan meminta sepeser uang receh atau uang kertas dari para pengendara yang melintas, barangkali ada yang ikhlas mau menyumbangkan sedikit hartanya untuk menjadi sesuap nasi.

Dari beberapa pengendara yang melintas, hanya segelintir orang yang menyumbangkan sepeser uang mereka untuk lelaki tersebut. Singkat cerita, ada sebuah mobil box yang melintas dan sopirnya singgah sejenak untuk memberikan sepeser uang dengan ikhlas kepada lelaki tersebut, sedangkan ada mobil yang cukup mewah yang melintas dimana pengendaranya bergaya cukup trendy dan berkelas, tetapi tidak memberikan apapun.

Akhirnya, terjawablah sudah pertanyaan yang membuat saya penasaran selama ini tentang “apa perbedaan antara si dermawan dan si kaya”?Ternyata, orang yang dermawan belum tentu kaya, dan orang yang kaya belum tentu dermawan.

Cerita di atas adalah salah satu contoh nyata. Meskipun sopir mobil box tersebut hidup dalam keterbatasan, tetapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk memberi dan membantu sesama, sedangkan orang yang hidup lumayan “berkecukupan” kadang-kadang enggan untuk memberi.

Sesungguhnya, memberi tidaklah harus peduli pada jumlah dan nominalnya, tetapi lebih kepada “keikhlasan”. Saya yakin, Tuhan Yang Maha Pengasih akan senang kepada hambanya yang selalu ikhlas dalam memberi dan membantu sesama, meskipun itu dalam jumlah yang kecil, daripada mereka yang selalu menyumbang/memberi dalam jumlah yang besar tetapi cenderung riya (mengharapkan pujian).

Dalam konteks bernegara, ada banyak saudara-saudara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hendaknya kita mengasah kepekaan sosial kita dan menghidupkan kembali budaya memberi dan membantu sesama (to give and to help), karena kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s