Sudahkah Kita Memuliakan Guru?

            “Bila kamu ingin sukses, maka hargai guru kamu”.

Itulah sebuah penggalan kalimat yang terlontar dari mulut seorang Gusdur ketika dia hadir dalam mimpi saya beberapa waktu silam. Mungkin ini kedengaran sedikit nyeleneh karena tidak mungkin seorang Gusdur bisa hadir dalam mimpi seorang anak muda yang bukan siapa-siapa. Namun, apa sih yang tidak mungkin apalagi dalam konteks bermimpi?

*****

 Pahlawan tanpa tanda jasa adalah gelar yang sering disematkan kepada para guru di Indonesia, bagaimana tidak, mereka telah banyak menghabiskan waktunya guna mendidik anak-anak bangsa, namun dedikasi mereka kurang diperhatikan oleh pemerintah. Buktinya, masih banyak guru-guru di Indonesia yang terpaksa harus nyambi (kerja sambilan) seperti menjadi tukang ojek sampai bertani guna mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Mereka melakukan itu, karena pemerintah tak kunjung memperhatikan kesejahteraan mereka. Pemerintah lupa pada sejarah bahwa syarat menjadi bangsa dan negara yang maju harus dimulai dari pendidikan yang bermutu dan untuk mewujudkan itu, nasib dan kesejahteraan guru harus diperhatikan.

Tengoklah Jepang, di negara ini guru-guru diberikan tunjangan dan fasilitas yang memadai mengingat peran mereka yang sangat sentral dalam pembangunan sumber daya manusia. Secara historis, ketika kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang dibom oleh sekutu pada perang dunia kedua, yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah Jepang adalah mencari tahu keadaan guru-guru yang ada di negara tersebut, apakah mereka selamat atau tidak. Pemerintah Jepang sadar bahwa pendidikan adalah sarana utama untuk menjadi negara maju yang disegani. Hasilnya kita bisa saksikan sekarang, Jepang menjelma menjadi negara yang sangat disegani di dunia. Bila dulu produk yang berbau made in Japan dianggap sebagai barang yang berkelas rendah dibandingkan produk Amerika dan Eropa, namun sekarang produk-produk Jepang muncul menjadi pemenang yang mampu menguasai hampir seluruh pasar di seluruh dunia (Esposito, 2003).

Berbicara tentang guru, saya secara pribadi terkadang merasa bersalah bila mengingat kembali masa-masa SMA dulu dimana waktu itu saya dengan sengaja pernah memprovokasi teman-teman guna melakukan protes ke kepala sekolah agar guru matematika kami diganti. Alasannya sederhana, hanya karena saya dan teman-teman tidak senang dengan tumpukan tugas-tugas yang sering diberikan oleh guru yang bersangkutan yang pada akhirnya akan mengurangi waktu santai kami.

Sebagai wujud protes kami waktu itu, saya lalu mengirim surat ke kepala sekolah dengan berisikan butir-butir tuntutan kami yang intinya adalah agar guru matematika tersebut diganti dengan alasan yang kami buat-buat, seperti otoriter, tidak tepat waktu, tidak professional, tidak memiliki metode pengajaran yang baik, dll. Tak lupa, surat tersebut dibubuhi dengan tanda tangan seluruh siswa yang ada di kelas kami guna meyakinkan kepala sekolah bahwa apa yang kami katakan adalah benar adanya.

Singkat cerita, sang kepala sekolah akhirnya memanggil guru matematika tersebut sembari menunjukkan butir-butir tuntutan kami. Kepala sekolah tidak langsung menyetujui tuntutan kami agar guru tersebut diganti. Sang kepala sekolah memberikan kesempatan kedua kepada guru yang bersangkutan agar memperbaiki segala kekurangannya selama ini. Dan untuk menjadi apa yang kami harapkan, guru bersangkutan akhirnya berusaha mengajak kami sekelas berdialog secara sehat di dalam kelas agar ke depannya beliau mampu mengajari kami sesuai apa yang kami inginkan. Bukannya mengapresiasi usahanya, saya dan teman-teman malah menyerang balik guru tersebut dengan pelbagai kritik yang tajam dan ucapan yang pedas yang sebenarnya tak pantas keluar dari mulut kami. Sontak, guru matematika yang telah sempoyongan tersebut menjadi shock sehingga dia tak sadar menitikkan air matanya.

Belajar dari kasus di atas, kiranya benar apa yang dikatakan pepatah “janganlah kamu terlalu membenci sesuatu/seseorang karena bisa jadi apa yang kamu benci itu sebenarnya baik bagi kamu”. Hal itulah yang benar-benar pernah terjadi pada diri saya dan baru tersadar bahwa ada pelajaran yang berharga yang ingin dititipkan oleh guru matematika tersebut, yaitu agar saya menjadi manusia yang tidak manja dan tidak banyak mengeluh.

Tanpa disadari, kita biasanya menjadi emosi ketika seorang guru bersikap tegas kepada kita. Kita lalu mengutuknya dengan doa dan ucapan yang buruk. Padahal apa yang sebenarnya diharapkan oleh guru kelak adalah bukanlah sesuatu yang bersifat mewah seperti uang, rumah, hotel, dsb. Mereka hanya ingin melihat murid-murid yang mereka telah didik mampu menjadi  pribadi yang lebih baik yang mampu menjadi seorang ‘intelektual organik’ -meminjam istilah Antonio Gramsci- dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat.

Akan tetapi, sesuatu yang membuat para guru bersedih adalah ketika mereka melihat mantan muridnya tampil di layar TV karena skandal korupsi. Bagaimana tidak, para guru akan menganggap dirinya gagal sebagai pendidik karena apa yang telah mereka ajarkan selama ini kepada mantan muridnya ternyata tidak membawa efek positif. Langit lalu menjadi mendung dan gelap.

Karena itu, marilah kita memuliakan guru kita dengan senantiasa melakukan hal-hal mulia yang mereka pernah ajarkan kepada kita. Marilah kita melakukan sesuatu yang positif bagi bangsa dan negara kita, sehingga guru kita mampu tersenyum sembari mengucapkan aku bangga menjadi seorang guru.

Yogyakarta, 15 April 2011

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s