Perceraian Agama dan Politik

Ketika menonton tayangan TV tentang gerakan keagamaan yang mengemuka akhir-akhir ini, yang nampak gamblang adalah bagaimana gerakan keagamaan seperti Front Pembela Islam (FPI) dengan getolnya menghancurkan Mesjid milik Ahmadiyah sampai razia para waria. Tetapi ada pemandangan yang berbeda pada hari Senin (10/01/2011) di kantor PP Muhammadiyah dimana para tokoh-tokoh lintas agama saling bergandengan tangan untuk turun gunung melakukan protes dan mengungkap uneg-uneg mereka mewakili umat yang dipimpinnya terhadap  kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dianggap gagal menakhodai Indonesia.

Beberapa tokoh lintas agama yang  hadir untuk mengambil bagian adalah Ahmad Syafii Maarif (mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Andreas Yewangoe (Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia/PGI), Din Syamsuddin (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia/MUI), Mgr Martinus D Situmorang (Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia/KWI), Biksu Sri Mahathera Pannyavaro (Mahanayakka Buddha Mahasangha Theravada Indonesia), I Nyoman Udayana Sangging (Parisada Hindu Dharma Indonesia/PHDI), serta KH Salahuddin Wahid (Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan tokoh nasional asal Nahdlatul Ulama/NU), serta

Mereka mengungkapkan beberapa kebohongan lama dan kebohongan baru rezim pemerintahan SBY. Beberapa kebohongan yang Selama ini menurut mereka mencakup bidang ekonomi, penegakan HAM, kasus lapindo, kebebasan beragama, perlindungan terhadap pekerja migrant, pemberantasan korupsi, dll.

Agama Sebagai Kritik

Tak dipungkiri, agama adalah alat yang paling mudah digunakan oleh kekuasaan untuk memobilisasi massa baik itu yang bersifat positif dalam rangka pemberdayaan umat dan juga hal yang bersifat negative, seperti perselingkuhan agama dan politik untuk mencapai cita-cita kotor para pemimpin untuk status quo. Contoh yang paling familiar adalah bagaimana seorang Syekh Mansur Al Hallaj, seorang sufi terkenal yang harus dihukum mati karena mengkritik raja yang berkuasa pada zamannya yang menggunakan label agama yang penuh dengan intrik kekuasaan dan despotisme, begitupun dengan figur Yesus yang harus berakhir di tiang salib karena mengkritik tradisi agama Yahudi yang dijalankan oleh raja-raja Romawi pada zamannya yang telah menyimpang dari Taurat.

Untunglah, Indonesia adalah negara yang cukup “demokratis” dimana kran kebebasan berpendapat masih terbuka dan merupakan hak bagi segenap anak bangsa untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil, apa jadinya apabila Indonesia persis pada zaman Al- Hallaj dan Yesus, pasti para pengkritik-pengkritik (tokoh lintas agama) tersebut telah digantung bahkan disalib. Apa yang telah dilakukan para tokoh lintas agama tersebut dalam mengkritik keras kebohongan pemerintah hendaknya diapresiasi tanpa memberi stigma negatif bahwa ada kepentingan politik dibaliknya. Karena sejatinya, inilah tanggung jawab moral mereka dalam rangka Amar Maruf Nahi Mungkar (mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran). Karena suara mereka adalah suara rakyat yang selama ini telah muak dengan janji-janji pemerintah yang semakin hari, semakin simpang siur.

Masyarakat kita saat ini, masih dirundung berbagai macam problema-problema sosial yang tak kunjung berkesudahan, seperti masih banyaknya masyarakat kita yang hidup dibawah garis kemiskinan ditambah sulitnya akses mereka untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas, dan lain-lain. Apa yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh lintas agama tersebut adalah sebuah gebrakan sosial dalam menjalankan “peran intelektualnya” meminjam istilah Edward Said, bahwa seorang intelektual hendaknya harus memiliki keberpihakan yang tegas, yaitu keberpihakan kepada yang benar.

Begitupun dengan semangat dan kewibawaan moral yang mereka miliki, mereka berani melawan arus demi tindakan yang kurang populer dalam rangka mengawal Indonesia yang kita cintai ke arah yang lebih bersih dan bersinar. Karena Indonesia saat ini, layaknya sebuah selokan yang dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan sampah yang apabila tidak dibersihkan maka tumpukan tersebut kelak akan menimbulkan bau yang busuk dan akan meluap menghancurkan sendi-sendi kehidupan.

Korupsi, yang merupakan sampah yang paling busuk dan paling akut merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintahan SBY saat ini. Hampir di setiap kesempatan, SBY selalu mendengungkan tentang program pemberantasan korupsi, tetapi kenyataanya hanya sebatas di mulut saja (lip service) karena masih banyak koruptor-koruptor yang gentanyangan disana-sini menikmati kebebasan bahkan sambil berplesir diluar negeri, sedangkan pencuri ayam yang terpaksa mencuri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya harus mendekam di balik jeruji besi.

Gayus tambunan adalah contoh yang nyata, betapa “loyo dan mandulnya” hukum kita. Seperti kita ketahui, Gayus merupakan seorang pegawai kantor pajak bergolongan III A yang telah banyak merugikan negara, tetapi mengapa dengan mudahnya berplesir ke Malaysia dan Singapura? Ini menunjukkan alangkah murahnya harga diri hukum kita yang sangat mudah dibeli oleh seorang pegawai bergolongan III A, bagaimana dengan pejabat-pejabat di atas Gayus? Apalagi diperkuat oleh pernyataan Gayus Tambunan (10/01/2011) bahwa SBY telah mengetahui siapa big-fish makelar pajak. Pertanyaannya, dimana konsistensi SBY dalam pemberantasan korupsi?

Menuju Bangsa dan Negara yang Lebih Baik

Inilah momen yang tepat bagi para tokoh-tokoh lintas agama untuk mewujudkan semangat agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Agama harus dijadikan lembaga kritik terhadap segala jenis penyimpangan, khususnya terhadap kejahatan kemanusiaan seperti korupsi. Lembaga agama saat ini dituntut untuk dewasa dalam menjalin relasi sosial tanpa harus terjebak dalam klaim kebenaran (truth claim).

Ada baiknya, “perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman, tetapi harus dijadikan sebagai conversation partner” (Bhikku Parekh, 2008) untuk memecahkan masalah bersama dalam rangka mewujudkan agama modern, meminjam istilah Jose Cassanova, dimana agama modern menurutnya adalah agama yang mampu menjawab tantangan zaman (Cassanova, 1992) yang dilandasi oleh spirit ajaran agama mereka masing-masing. Hindarilah sikap saling menyesatkan satu sama lain karena hal tersebut bisa mempertajam potensi konflik yang ujung-ujungnya akan menciptakan instabilitas nasional.

Buat Pak SBY, apabila anda ingin dikenang oleh sejarah sebagai negarawan sejati, belum terlambat untuk berbenah diri, mengevaluasi seluruh janji-janji anda semasa kampanye dulu dan mewujudkannya dalam tindakan nyata. SBY diharapkan mampu legowo menerima segala kritik dari segenap elemen bangsa karena kritik merupakan ekspresi ketulusan cinta kasih kepada beliau, agar dijadikan tuntunan dalam menyelamatkan bangsa ini dari erosi moral menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Penulis paham bahwa SBY adalah figur yang cenderung menghindari konfrontasi, tetapi dalam pengelolaan bangsa dan negara yang sudah akut dan emergency seperti Indonesia, dibutuhkan mental petarung dari seorang pemimpin dan sekaranglah saatnya untuk membuktikan!!!

Makassar, 15 Januari 2011

Bibliography:

Cassanova, Jose. (2001). Agama di Ruang Publik: Kehidupan Dunia di Alam Modern. Malang: Resist Book.

Parekh, Bhikku. (2008). A New Politics of Identity: Political Principles for an Interdependent World. New York: Palgrave Macmillan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s